Sore dan Rasa Bersalah

Dua orang laki-laki dewasa. Satu mengenakan kaos polos putih dan celana pendek dan di lehernya menggantung perbagai minuman pendongkrak energi, air mineral, kopi dan lain-lain lengkap dengan makanan ringan kacang dalam sebuah plastik kecil, biji jambu mete yang sudah digoreng enak dan sebagainya. Lelaki kedua, mengenakan kemeja putih berlapis jas hitam, seperti tuxedo, celana katun licin dan sepatu mengilat yang mancung di depannya.

Dua lelaki sama-sama dewasa, muka mereka bengis, mungkin di balik mulutnya terselip beberapa taring, dan saya telah membuatnya muntab.

Dua lelaki dewasa. Mereka marah pada saya.

Dua lelaki dewasa. Mereka menuntut saya mengeluarkan isi dompet. Lelaki pertama, dia sangat sibuk dan menginginkan pergi, tapi dia juga menginginkan secangkir kopi plastiknya dikeluarkan lagi dari dalam lambung saya, jika saya tak segera membayar dagangannya. Sementara itu, lelaki kedua, saya rasa dia menginginkan dua hal dari saya: (pertama) anda di situ saja, bung. Lalu ijinkan urusan ini berjalan cepat dan ringkas: saya meng-uppercut muka anda, dan anda mimisan dan pingsan, lalu (kedua) saya janji akan segera mengambil isi dompet anda. Dan saya janji akan langsung pergi.

Kerusakan ini sama sekali bukan hal sepele. Anda lihat? Saya cuma pekerja kantoran yang yah, sudra. Tingkat rendah. Saya punya bos yang menyebalkan, dan dia suka menyuruh-nyuruh saya bagai keledai tolol piarannya. Oh. Seekor keledai malang. Tapi itulah nasib saya. Bertahun-tahun. Tanpa peningkatan signifikan yang layak diperoleh sebagai keledai sungguhan, saya bertahan. Tapi kadang-kadang, saya menikmatinya. Bukan hal buruk saya pikir. Setidaknya keledai lebih baik ketimbang saya analogikan sebagai coro.

Anda tahu coro kan? Posisi mereka selalu terjepit dalam keadaan kikuk. Mereka hidup di antara lubang utang-piutang. Kakak saya sendiri yang mengalaminya. Dia menutup dan menggali sendiri lubang yamg sama. Riwayatnya. Sungguh menyedihkan. Dia tergelincir seperti halnya seekor coro yang grogi saat melakukan pendaratan tiba-tiba dan mendapati dirinya tengkurap dalam posisi terbalik. Nah. Itulah hidup kakak saya.

Saya sendiri kadang-kadang membantunya. Dengan menyisihkan uang gaji saya yang cukup kecil. Tapi saya melakukannya rutin. Memang itu semua saya lakukan bukan semata-mata saya ini adiknya. Melainkan dia pernah menyelamatkan krisis hidup saya. Dulu sekali. Dia yang membayar uang kuliah saya. Dan dia juga yang terus menyemangati saya supaya terus bergirlya di medan perang di permukaan bumi ini yang tak jelas juntrungannya. Jadi saya seperti membayar hutang yang tak akan pernah habis sekaligus jasa, karena dia sudah mau membuka mulutnya tanpa pernah capek untuk menasehati saya.

Sementara, anda tahu, saya juga harus mencicil angsuran sepeda motor bodoh ini kepada leasing sialan itu. Sepeda motor yang baru saja anda robohkan dan saya kira kerusakannya cukup parah. Bodinya terbuat dari plastik. Jepang pintar betul menarik konsumen untuk membeli dagangannya yang rapuh dan mudah pecah ini. Tapi Jepang pasti tidak cukup bodoh, mereka memproduksi suatu barang lengkap dengan suku cadang aslinya. Yang harganya saya pikir kelewat mahal bagi ukuran saya.

Nah. Sekarang anda lihat sendiri kan? Akibat kecerobohan dan sikap bodoh anda sebagai manusia yang memiliki akal, tapi mungkin anda sedang tidak menggunakannya, sehingga anda memarkir kendaraan butut anda, berjejer dengan sepeda motor saya, seolah-olah mereka dilahirkan ke dunia untuk berjodoh di bawah pohon beringin yang enak buat bereduh ini, alih-alih sepeda motor anda melukai kekasihnya, yaitu sepeda motor saya, anda secara tak sengaja merusak tatanan asmara mereka. Sehingga bodi samping sepeda motor saya pecah dan lecet sana-sini.

Oh. Saya menyesali kata-kata saya barusan yang kasar dan terdengar tidak berpendidikan --padahal saya ini S2 lho! Tapi anda pasti tak asing dengan gelar yang konon bermakna "Senang dan Sukses" alih-alih suka-suka mereka diijinkan mengumpat seenaknya. Bajingan. Tengik. Dasar tak berpendidikan, kepada yang dia pikir tak berpendidikan.

Maka dari itu, saya mohon, bajingan tengik, anda harus bayar ganti rugi terhadap kerusakan-kerusakan sepeda motor saya. Sekarang!

Karena jika anda berniat mengindahkannya. Atau berusaha kabur. Atau menunjukkan sikap liar manusia prasejarah lainnya, betul, saya tak akan segan-segan meng-hook muka anda tujuh kali. Ini merajuk pada yang kita ketahui umumtujuh dosa utama manusia. Dan jelas, anda itu manusia. Saya bukan. Saya keledai!

Karena jika anda memang benar-benar tidak mau mengganti rugi, biaya kerusakan sepeda motor saya, anda berarti secara tidak langsung, telah turut andil memusnahkan peradaban manusia.

Kenapa saya ngomong begitu? Sebab seperti yang sudah saya bilang. Gaji saya kecil. Saya mesti bayar kontrakan rumah, tagihan listrik, air ledeng, makan sehari-hari, mengirim uang untuk kakak dan ibu saya di kampung, dan terakhir saya gunakan untuk mencicil angsuran sepeda motor itu, dan menyisihkan sebanyak 5% uang itu untuk menabung di bank. Dan selama mungkin saya dituntut harus bisa mempertahankan sirkulasi tersebut hingga batas waktu yang tak dapat ditentukan.

Dulu saya pernah ketika sedang berjalan-jalan sendirian di sebuah area terbuka, saya menemukan sebuah tas tergeletak. Saya cek isinya buntalan uang-uang yang dibungkus dengam rapi. Isinya uang semua. Tapi saya mendadak sedih. Sebab sejauh tak pernah ada orang yang suka, yang pada akhirnya tahu bahwa itu semua hanya mimpi.

Dan itu pula sebabnya saya belum-belum menikah hingga sekarang. Maka, jika anda mengabaikan urusan ganti rugi ini, itu artinya saya sendiri yang menanggung biaya kerusakan dengan uang tabungan saya yang tak seberapa, maka anda lah satu-satunya orang yang bertanggung jawab jika saya tak menikah-menikah.

Saya tak menikah. Maka saya tak punya istri, anak, cucu, cicit, dan seterusnya dan coba anda bayangkan jika anak saya yang seharusnya lima, dan masing-masing dari mereka punya lima anak, dan anak-anak mereka punya lima anak, dan seterusnya, jumlah itu pasti akan sangat fantastis. 1.289.454.968 manusia. Itu memang hitung-hitung asal-asalan. Tapi kengawuran kadang-kadang tepat. Dan itu artinya, anda dan perangkat tubuh anda yang bodoh itu sudah berkomplot untuk membunuh mereka bahkan sebelum mereka dilahirkan. Pembunuhan besar-besaran. Genosida. Dan yang lebih kejam lagi anda melakukanya sendiri. Hitler tidak sekejam anda!

Maka, saya mohon, anda bayar tanggung jawab anda sebagai manusia berbudi luhur. Sebab saya yakin anda pasti tak ingin kan membiarkan hal buruk menimpa orang lain. Terlebih itu karena kesalahan sepele anda.

Sebab anda tahu, jika satu saja segala hal terjadi tidak sesuai urutannya maka bisa dipastikan semuanya akan kacau.

"Jadi, bajingan tengik, kau harus bayar uang ganti rugi!"

Saya menatap kedua lelaki itu. Napas saya pendek-pendek dan sedikit tersengal. Tapi mungkin lima detik lagi keadaannya akan berbeda. Saya tak bisa bernapas seperti ini lagi. Apa yang harus saya lakukan? Saya harus jujur.

"Saya tak bawa dompet!"

[AW]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Rainbow Rowell

Finding Samara