Pulang



Minggu terakhir April. Aku menyimak Raihan memainkan tuts tuts piano di ruang keluarga kami yang hangat. A Thousand Years mengalun lembut. Sejujurnya, momen ini membuatku terharu. Beberapa hari setelah ini, mungkin aku akan sangat merindukannya.

Kalimat-kalimat tanya menggantung dalam benak ini. Sulit sekali terucap dari mulutku. Misalnya, benarkan kamu akan meninggalkanku? Kumohon jangan. Tapi begitu dia memutuskan, rasanya sulit untuk merubahnya.

"Din! Jaga Mama, ya?"

Aku hanya menggangguk. Kusandarkan kepalaku di pundaknya tanpa bicara apa-apa.

***

Aku tinggal serumah dengan beliau yang tidak begitu menyukaiku. Entah seberapa besar aku berusaha.

Suatu hari saat pembantu pulang karena anaknya melahirkan, dia tidak menyentuh masakanku. Seingatku aku sudah mematuhi pesan-pesan Raihan. Masakan tanpa gula, rendah kolesterol. Dan dalam beberapa waktu aku terus membujuknya.

"Mah, waktunya makan."

"Bosan dengan itu itu, Din," keluhnya.

"Meski Raihan tidak ada. Peraturan masih tetap berlaku."

Makanan sehat memang itu-itu, tapi kalau sudah terlanjur sakit. Rasanya harus bersyukur, untuk mau yang itu-itu tersebut.

"Mama jadi kangen Raihan."

Aku tertegun. Hari ini, bayangan ketakutan muncul. Sebenarnya, kesuksesan macam apa yang diharapkan orang tua terhadap putra-putrinya. Mama Susanti punya empat orang anak. Bisa dibilang semua sukses. Kakak ipar pertama Direktur Bank BCI, dia bermukim di Jakarta. Kakak ipar kedua seorang dokter di Singapura. Kakak ipar ketiga seorang bintang yang bersinar terang benderang. Dan suamiku Raihan, pria cerdas yang pernah kutemui. Dia sedang mengambil beasiswa S3nya di Australia. Satu hal yang jarang mereka lakukan, dan itu adalah 'pulang'. Setiap ada masalah tentang Mama. Akulah orang pertama yang akan disalahkan.

"Baik-baik ya, Ma," bisikku sambil mencuri cium pipi beliau, lalu menyelimutinya pelan. Yeah, mumpung beliau sedang tidur.

Setelah itu aku sedikit memanfaatkan waktu untuk melukis. Ini belum begitu larut. Sekedar untuk refresing, meski aku tidak akan seperti dulu yang pernah aktif mengikuti pameran.

Ah iya. Mungkin dulu, itulah asal mula Mama tidak begitu menyukaiku. Beliau anggap istri Raihan liar, tidak pernah mandi dan gosok gigi, liberal dan anti kemapaman. Padahal aku sama saja seperti menantu Islam lain. Aku masih berpedoman kebersihan gigi dan badan adalah sebagian dari iman. Waktunya sholat, aku juga sholat. Puasa juga puasa. Ngaji juga ngaji. Masalahnya, ibadah adalah urusan kita dengan Tuhan. Aku tak mungkin update status di sosmed. Alhamdulillah saya baru saja sholat shubuh di masjid, sambil selfie (supaya calon mertua yang sekarang sudah jadi mertua, tau). Bahkan lebih berlebihan lagi andai update status, yihaa baru dari salon buat spa (supaya suami suka). Sekali lagi, esensi hidup bukan sekedar pencitraan. Tapi pengabdian kita pribadi untuk berjuang menjadi manusia baik di hadapan Tuhan. Istri yang baik untuk suami. Dan aku bersungguh-sungguh, mencintai Mama Susanti, seperti ibuku sendiri.

Secara pelan, ternyata doa-doaku menemukan jawabnya. Allah meminta kepada waktu yang bijak untuk mengubah segalanya. Saat Mama berkumpul bersama sahabat-sahabatnya yang pamer sukses anak dan menantu. Aku dengar beliau membelaku.

"Andini, menantuku ada di rumah saja. Tapi aku bangga padanya karena dia selalu punya waktu untukku."

Mama menatapku hangat, dan aku hanya membalasnya dengan tersenyum lega.

Setelah itu hari-hariku bisa dibilang berubah. Mama lebih penurut dan kami sering nonton bahkan sempat jalan-jalan bersama. Tak jarang aku menemaniya di pengajian, arisan dan aktifitas sosial lain.

"Kakiku lelah, Din," keluh Mama.

"Biar saya pijitin, Mah."

"Aghh! Dan dadaku juga sakit sekali, Nduk."

Aku terhenyak, langsung mengamati Mama. Raut wajahnya pucat, terlihat susah bernafas dan ada titik keringat bermanik-manik. Aku mulai kawatir saat beliau memegangi dadanya.

Di sekian menit berikutnya Mama Susanti mulai pucat pasi, bahkan meringis nyeri. Aku sudah panik luar biasa. Menelpon ambulance, membawa beliau ke rumah sakit, hingga masuk UGD.

Isi kepalaku sudah kosong melompong. Sambil berdiri menunggu Mama pikiranku sudah ke mana-mana. Antara kawatir, ketakutan, bingung dan panik. Dan entah apa yang kulakukan karena agak shock dengan penjelasan dokter. Begitu aku memegang obat yang sudah diresepkan untuk Mama, aku malah bertanya pada Mas Fattah (kakak ipar keduaku).

"Itu bukan obat biasa, Din. Tepatnya obat untuk penyempitan jantung. Untuk siapa, memangnya?"

Kurasa aku menahan nafas saat mengetik kata 'Mama, Mas'

***

Semua orang termasuk Raihan pulang. Dan kutahu, aku telah kehilangan segalanya setelah itu. Aku sudah bersiap-siap saat menahan nafas tempo hari, bukan berarti aku sudah siap jika saat ini terjadi. Aku disalahkan sekaligus dituduh tidak becus menjaga Mama Susanti. Dan semua orang bertengkar saling menyalahkan. Karena tak tahan, aku hanya menyingkir ketakutan.

"Boleh aku tinggal di sini? Kurasa aku tak punya rumah sekarang?" ucapku saat kabur ke cafe sahabatku Tantri.

"Di sini? Cafe ini akan gulung tikar. Bisnis yang merugi. Setelah ini aku jatuh miskin."

"Tapi Tantri, hatimu masih cukup kaya untuk memelukku saat ini."

Tangisku tumpah ruah dalam pelukan Tantri. Kurasa dia menepuk-nepuk pundakku, berupaya menenangkan.

***

"Tantri, kita coba jadi unik dan berbeda supaya terlihat. Menu, interior eksterior. Kupikir orang kota sudah bosan dengan tata ruang yang monoton. Kita bangun seperti pondok, gazebo, bangku kayu, bunga. Lalu bagian dalam cafe, kita atur seasri mungkin. Seperti tempat liburan."

"Biaya?"

"Hmm kita hanya butuh cat dan bibit tanaman. Soal uang, sebenarnya aku pernah punya suami yang jarang pulang, begitu pulang banyak yang kurang, tapi tak pernah lupa memberi uang."

"Pernah? Dia sama sekali tidak menelponmu? Dia sudah kehilangan bajumu selemari. Kalau aku jadi kau, aku akan menginap di hotel lalu menghabiskan uangnya."

Kau tau Tantri? Di hotel aku akan sendiri meratapi diriku. Sedang di sini ada dirimu. Sebenarnya aku rindu Mama. Tapi aku tak cukup berani untuk datang ke rumah sakit lalu menjenguknya. Ucapan-ucapan kakak-kakak Raihan tereja jelas dalam ingatanku. Seolah-olah aku sangat buruk dan sudah membahayakan Mama. Bahkan waktu itu Raihan hanya diam. Dia tak cukup punya kalimat untuk membelaku.

"Sayang! Maaf baru mencarimu."

Mata Tantri terbelalak saat melihat Raihan berdiri di pintu Cafe. Dengan konyol Tantri tersenyum sambil mengedipkan mata padaku sebelum pergi.

"Raihan?"

Dengan ragu dia berjalan ke arahku. Duduk di sampingku lantas meremas tanganku. Ekspresinya penuh rasa bersalah.

"Maafkan aku," ucapnya.

"Aku salah. Aku ... aku ... tidak bisa menjaga Mama dengan baik," jawabku terbata-bata.

"Tidak! Mama mencuri-curi makan yang terlarang untuknya, beliau bilang tanpa sepengetahuanmu. Hari itu, semuanya hanya sedang bingung. Ini tak ada hubungannya denganmu. Maafkan kami, sekarang ayo kita pulang."

Kami pulang. Aku tak tau sejenis kecemasan apa yang menghantuiku. Aku merasa harus bertanya-tanya kenapa kami pulang, bukannya ke rumah sakit. Badanku sedikit gemetar memikirkannya. Aku merasa kehilangan ruas-ruas tulangku begitu tiba di ruang keluarga.

"Dini!" panggil Mama histeris.

Aku senang setengah mati, melihat Mama duduk di sofa dengan ekspresi segar bugar. Beliau sudah siuman, dan terlihat baik saat aku pertama kali terang-terangan memeluknya.

"Kalau tidak begini, kalian juga tidak akan pulang, bukan? Dan lupakan soal perawat. Aku sudah punya menantu yang lebih baik dari mereka. Yang diam-diam mencium pipiku saat tidur, menyelimuti tubuhku, memijit kakiku dengan sabar, mengomeliku saat bandel tentang makanan, teman bicara dan jalan-jalan yang menyenangkan. Tentu disaat kalian tidak bisa memberikan itu semua, kepada Mama."

Tak ada satupun yang berani mendongak. Suasana hening. Hanya Raihan yang memelukku bersama Mama. Sempat kudengar suamiku berbisik di telingaku 'terima kasih, Sayang'. Kusadari air matanya berlinang-linang saat mencium pipiku pelan.

Trenggalek, 28 Maret 2017.

[RD] Ilustrasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Rainbow Rowell

Finding Samara