Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [2]


Kisah cintaku berakhir satu tahun lalu. Meski sudah berlalu 12 bulan atau 365 hari, atau 8760 jam atau 525.600 menit atau hasil fantastisnya 3.1536.000 detik lalu, aku masih saja mengingatnya dengan detail. Seperti bayi, yang lupa alasan ia menangis untuk apa, aku melakukannya begitu saja. Dan kadang aku juga berpikir, untuk apa aku mengingatnya. Aku hanya memang memikirkannya, mantan pacarku itu.

Dia memiliki napas yang lembut, suara yang khas seperti siualan kerang, dan tatapan matanya, oh, yang teduh meski dia sedang marah dan kesal pada orang lain. Matanya seperti mata balita yang memohon padamu jika dia memiliki kesalahan tolong dimaafkan. Dia jarang tertawa, dia lebih suka mengulum bibirnya. Sesekali dia membasahi bibirnya itu hanya untuk memberi ruang kepada orang lain untuk bicara. Jika aku berusaha keras membuat adegan lucu, sok lucu, atau bertingkah konyol untuk membuatnya tertarik, dia justru mengapresiasi usahaku dengan mengelengkan kepala, lalu sekeras mungkin menghentikan tingkahku dengan berkata, “Apa yang kau lakukan, Tas?”

Umur kami selisih dua tahun. Dia lebih tua dariku. Di ulang tahunnya yangk ke dua puluh tiga, aku menyewa seragam super hero lengkap dengan topeng, dan untuk menambah suasana romantis itu berjalan lancar, aku membayar teman-temanku untuk berperilaku bagai penjahat. Lalu menyelamatkan dia dari kepungan para berandal saat ia berada di taman, tempat kami berjanji bertemu karena saat itulah aku keluar sebagai pahlawan.  Aku tahu ide itu sinetron sekali. 

Tapi, Wening—nama mantan pacarku, cuma bergeming setelah aku berhasil memenangkan pertarungan dengan para penjahat itu. Sama sekali tidak berkutik.
Setelah penjahat-penjahat itu kabur, aku mendekati Wening, dan masih mengenakan topeng, aku mengulurkan kartu ucapan selamat ulang tahun.
Dia sama sekali tidak kaget. Bahkan dia tidak penasaran orang di balik topeng itu. Dia sudah tahu, itu aku. Maka dia menarik lengan tanganku, dan berkata, “Apa yang kau lakukan, Tas?”
Aku membuka topeng karetku. Mengatur napas, dan duduk di sampingnnya. “Aku tahu, aku tak pernah bisa menghiburmu, bahkan di hari ulang tahunmu sekali pun.”

Saat itu aku berpikir, aku pasti sangat konyol di hadapannya.

“Tidak apa-apa. Kau mau minum?” Dia menawariku air minum.

“Aku mau minum,” kataku.

“Lain kali jangan bersikap seperti itu lagi ya?”

Aku mengembalikan air minum kepadanya.

“Siang ini, aku ijin ke kantor memenuhi panggilanmu dan hanya untuk ke taman menyaksikamu diserang oleh para penjahat? Lucu sekali.” Dia tertawa kering.

“Mereka bukan penjahat, mereka teman-temanku dan aku harus membayarnya demi berpura-pura jadi penjahat.”

“Tapi kau sudah menghabisakan waktu jam makan siangku,” katanya sambil menggeleng.

“Aku tahu.”

“Dan kalau kau tahu kenapa masih melakukannya?”

“Aku tahu.”

“Sudahlah...,” ujarnya. “Aku harus masuk kantor lagi.”

Dia bangkit dari bangku kayu yang kami duduki, dan berjalan santai ke luar taman. Lalu berhenti sejenak menolehku ke arahku yang masih terpaku menatapnya. “Menurutmu, apa kita butuh pengakuan orang lain supaya mereka mengerti apa yang mesti dilakukannya?”

Aku tidak menjawab. Dia juga tidak menunggu aku menjawab pertanyaannya itu. Dia melangkahkan kakinya dan menghilang di tikungan pertama ujung taman.
Aku duduk di taman selama kurang lebih sepuluh menit sebelum akhirnya memutuskan pergi. Sambil berjalan keluar taman, aku memikirkan tugas-tugasku yang menumpuk dan menanti untuk selesaikan. Tugas itu bukan tugasku. Tapi aku membayar diri dengan mengerjakan tugas-tigas kuliah sebagai pengganti bayaran para penjahat tadi yang kusewa.
Tiga hari berturut-turut setelah itu aku bolak-balik ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas ketiga penjahat itu. Dan aku sangat sibuk sehingga aku tak punya waktu untuk menyapa Wening.

Di hari keempat ketika aku selesai dengan semua tugas, aku baru menghubungi Wening lagi.
“Apa kabar?” tanyaku melalui jaringan telepon.

“Kupikir kau sedang mengemban tugas berat menyelamat dunia dari tangan penjahat.”
Suara di ujung telepon sungguh berisik. Suara Wening bercampur dengan suara orang-orang di sekitarnya. Tapi aku masih bisa mendengar suaranya dengan cukup jelas.

“Aku memang agak sibuk akhir-akhir ini,” kataku jujur. 

Saat itu aku memang masih kuliah, dan Wening sudah bekerja di perusahan periklanan.

“Itu bagus,” ujarnya. “Aku juga berpikir kau lebih sibuk dari tiga hari lalu, sehingga kita bisa lebih fokus apa yang masing-masing kita lakukan.”

“Memang apa yang sedang kau lakukan?”

“Makan malam. Dan tertawa bersama teman-temanku.”

“Aku senang akhirnya kau bisa tertawa,” ujarku memindahkan gagang telepon ke telingaku yang lain, “dengan teman-temanmu.”

“Aku juga senang kau mengatakan itu. Eh, sudah dulu ya, nanti kuhubungi lagi.” Dia menutup jaringan telepon. Terdengar nada tut panjang di telingaku. Nada yang sungguh panjang dan memilukan.

Aku pergi ke dapur menjerang air dan membuat kopi dan malam itu aku menunggunya menelponku. Tapi sampai tengah malam, tak ada bunyi-bunyian aneh atau wajar yang terjadi di ruang tengah rumahku.

Berhari-hari kemudian. Berminggu-minggu kemudian. Tak ada telepon darinya. Sesekali telepon itu bergetar, tapi itu panggilan dari pelanggan, atau Kayas, atau orang-orang yang tersesat dan salah sambung.

Aku juga tidak berusaha menghubunginya. Aku percaya dia akan menelponku, jadi sejak malam itu sudah kuputuskan untuk menunggunya. Sejauh yang kutahu, Wening, adalah perempuan yang tak pernah ingkar janji. Dia akan mengatakan apa yang membuatnya terhambat karena belum bisa menelponku. Dia akan mengatakan apa yang ia rasakan. Dia tidak suka kepura-puraan. Dia mengerti apa yang perlu dilakukan untuk hidupnya.
Satu bulan kemudian, Wening menelponku. Kebetulan seluruh anggota keluarga sudah tidur. Dan kebetulan lainnya aku sedang di ruang tengah menonton kartun.

“Hai, “ ujarnya mendesis. Cara bicaranya persis seperti sedang mengetes mikrofon. Dan dia begitu yakin, orang di balik jaringan itu adalah aku. 

Aku menarik napas dan mengeluarkannya perlahan-lahan. “Hai. Apa kabarmu?”

“Baik. Kau?”

“Baik,” sahutku. “Dan aku sedang menonton kartun.”

“Apa aku mengganggumu?”

“Sama sekali tidak,” ujarku. “Aku bisa melewatkannya kok. Setiap hari pukul 10 malam, selalu ada acara kartun.”

“Aku cuma mau ngomong sebentar kok. Sepeluh menit saja.”

“Tentu. Aku bahkan memberimu waktu 10 menit kalau kau mau.”

“Tidak. Cuma lima menit.”

“Baiklah. Ada apa?”

Aku menarik napas. Hening. Aku dapat mendengar Wening menghembuskan napas. “Akhir-akhir ini aku kehilangan dirimu. Pertama kali aku melihatmu, saat kau berjalan melalui lorong labolatoriun biologi, aku langsung tertarik denganmu. Aku mengamatimu dari jauh. Aku menunggu kau melintasi lorong itu setiap waktu. Aku ingin berkenalan denganmu. Aku bertanya dengan teman-temanku, tapi mereka bilang tidak tahu. Mereka tidak tahu siapa kau. Karena aku bertekat ingin berkenalan denganmu, aku mencari-cari informasi tentang dirimu. Tapi selama seminggu aku tidak mendapatkan apa-apa. Kecuali namamu, prodi yang kau ambil, dan alamat rumah dan telepon rumah yang bisa dihubungi.

“Aku yakinkan diriku sendiri. Cowok ini pasti bahkan tak tahu istilah apa itu organisasi. Namamu tak satu pun ada di suatu organisasi kemahasiswaan. Tak ada. Reputasimu di kampus begitu buruk. Dan itu membuatku hampir menyerah. Sementara aku menginginkan nomor ponselmu langsung, bukan nomor telepon rumah. Apa lagi kau seringnnya berjalan sendirian mengitari kampus. Kau seperti tak punya teman. Seolah Tuhan menjatuhkanmu begitu saja ke bumi tanpa terlebih dulu memikirkan teman untukmu. Kemana aku harus mendapatkan nomor itu? Kau bahkan tak punya teman untuk kau membagi nomormu.“

Aku memotong kata-katanya, “Itu tidak benar. Aku punya teman kok.”

Tapi Wening tidak peduli. Lalu dia melanjutkan kata-katanya, “Dan hari itu, setelah berhari-hari aku mengumpulkan keberanian yang kurasa cukup banyak, aku mendekatimu saat aku sedang duduk di sudut perpustakaan. Buku-buku tebal menumpuk di hadapanmu. Aku tahu kau tidak sedang membaca buku, karena kupikir kau sedang melamuni sesuatu di kepalamu. Aku berkata, sambil menasehati jantungku supaya mengontrol deg-deg-an itu. Kepadamu, ‘Maaf aku menyela lamunanmu. Boleh aku bla... bla...’ Dan kau cuma memantul-mantulkan kepalamu saja di antara buku-buku itu.”

“Aku juga deg-deg-an waktu itu, loh,” kataku.

“Tapi apa kau tahu apa yang terjadi hari ini?”

“Apa?”

“Aku kehilanganmu. Aku kehilangan debur ombak itu. Aku kehilangan perasaan deg-deg-an itu. Apa kau mengerti maksudku?”

“Ya. Apa maksudmu?”

Tiba-tiba saja jaringan terputus. Lampu di ruang tengah mati. Semua lampu mati dan suasana berubah gelap gulita. Saat aku hendak meletakan gagang telepon ke rumahnya, lampu mendadak kembali menyala. Ketika aku hendak menelponnya lagi, ponsel di saku celanaku justru bergetar.

“Kau harusnya mendengarku bicara,” Napas Wening terdengar mengeluh. “Aku belum selesai. Aku belum ingin menyelesaikannya. Tapi sepertinya kau tidak mau mendengarkanku.”

“Tadi listriknya mati,” aku menjelaskan.

“Tas?” Wening memanggil namaku dengan jelas. Seolah aku berada jauh dari jangkauannya.  
 
“Ya? Aku di sini.”

“Tetaplah di situ. Aku ingin kita di tempat masing-masing. Tempat paling nyaman kita. Aku ingin—“ Wening terbatuk-batuk.

“Ada apa? Apa kau sakit?” tanyaku.

Selama lima detik tidak ada jawaban. Mungkin dia sedang minum air putih. Lalu, “Tidak, Tas. Tapi terimakasih perhatianmu. Aku hanya...” Suaranya tertahan, “lelah berputar-putar.”

“Kalau begitu kau harus berhenti dan beristirahat.”

“Ya. Aku juga ingin. Tapi aku tak ingin mengambil keputusan yang seperti—“

“Aku tahu maksudmu,” Aku memotong.

“Kau tahu?” Dia bertanya.

“Ya. Aku tahu apa yang ingin kau katakan.”

“Jadi apa menurutmu yang mesti kita lakukan?”

“Aku sendiri tak tahu,” kataku. “Tapi apa kau sudah punya kekasih lagi?”

“Ya.”

“Aku senang kau berterus terang.”

“Tas?” Wening memanggil namaku lagi. “Kita harus berbahagia.”

“Tentu saja. Dan apa itu pesanmu?”

Wening terdiam. Tapi aku tidak berpikir di sana sedang mati lampu, atau dia sedang minum air putih. Terjadi jeda panjang di antara kami. Setelah itu, “Tas, kau harus berbahagia. Itu saja yang ingin kukatakan. Kau bisa kan? Kau maukan melakukannya untukku? Atau kau bisa melakukannya untuk dirimu sendiri.”

Aku membungkus ponselku dan berdiri mematung di meja telepon. Menghitung mundur sepuluh sampai satu, dan menjawab keingannya itu ragu-ragu. “Akan kucoba. Akan kulakukan.”

Lalu kami sama-sama sepakat memutus jaringan telepon dihitungan ketiga. Namun dihitungan pertama aku sudah lebih dulu meletakan telepon itu.

[AW]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rainbow Rowell

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Finding Samara