Kejutan



Baru kemarin aku berkata pada diriku , aku masih Tantri yang dulu. Wanita Indonesia yang dilahirkan dari beberapa perpaduan warna. Kombinasi Arab-China-Bali dan Jawa. Berhidung mirip kakek dari Mama, bermata lebar mirip nenek dari Papa, dan mewarisi kulit pucat Mama. Namun saat bercermin, aku menyadari kini telah berubah.

Di titik terendah dalam hidupku ini, ada beberapa hal telah membaik. Aku tidak lagi mendapati sahabatku menangis sesenggukan dalam pelukanku karena pengabdiannya tengah diuji. Tak banyak wanita sabar jika diabaikan. Tapi Andini tetap melakukannya. Dia berjuang menjadi menantu sekaligus istri setia. Jiwanya jauh lebih tangguh dari pada aku, kupikir itulah positifnya sahabatku Dini.

Dini juga menciptakan keajaiban-keajaiban kecil di cafeku. Kami mengecatnya bersama-sama. Lalu menanam bibit-bibit lavender, sun flower dan mawar di halaman. Kadang sesekali di akhir pekan dia datang. Kami mencoba resep-resep baru, sebelum meletakkannya di daftar menu.

Percayalah, aku juga sudah berhenti mengharapkan baristaku kembali. Sudah kuputuskan meski Iqbal bak Dewa dalam mitologi Yunani kuno. Dia bukan hal baik yang pernah ada di hidupku. Suatu hari dengan lancang aku membuka akun sosmednya untuk mencari kebenaran. Sungguh, mengejutkan. Begitu mengklik 'search' lalu menemukan apa saja yang sudah pernah dia akses, dunia serasa runtuh. Impianku tentang kebaikannya sudah musnah.
Sial. Kurasa Dini benar, jika ingin mengecek tentang kerapian seseorang. Jangan lihat ruang tamunya, tapi kamar mandinya. Di wall sosmed Iqbal kutemukan bahasa-bahasa langit. Setelah kubuka paksa dalamnya, aku menemukan hal-hal mengerikan.
Dan tak ada yang lebih buruk setelah itu. Aku sudah kehilangan dia. Dan aku tidak mungkin melapor pada polisi kalau suamiku diculik oleh tante-tante sebelah rumah. Dia sudah terlalu dewasa untuk tersesat menemukan jalan pulang.

"Bu Tantri. Nutrisi buat janinnya dijaga ya, Bu. Konsumsi makanan mengandung protein, zat besi, asam folat, zink, kalsium, vitamin C dan D. Ibu juga sebaiknya tidak kekurangan cairan."

"Apa kami terlihat buruk, dokter?" tanyaku, mencoba memulihkan diri dari lamunan.

"Sebenarnya, saya berharap Bapak ada di sini. Maksud saya mendampingi Ibu Tantri di pemeriksaan selanjutnya."

Mataku memanas. Hatiku nelangsa setengah mati. Dan Dokter Fathir, terlihat sedikit curiga dengan perubahan ekspresiku.

"Apa saat besar nanti, dia harus memiliki Ayah? Apa hal-hal yang dilakukan seorang Ayah, Dokter? Supaya anak ini tumbuh baik?" tanyaku.

Dokter Fathir terdiam sejenak. Kurasa dia turut larut terbawa suasana. Aku lihat matanya sedikit berkaca-kaca. Dia terlihat sangat menyesal dengan permintaannya yang sederhana untuk beberapa ibu, tapi rumit untukku.

"Ayah adalah figur otoritas, Bu. Mungkin menularkan jiwa mandiri, kuat dan tangguh terhadap putra putrinya. Tapi menurut saya, seorang Ibu juga bisa melakukannya," hiburnya.

"Saya rasa, kakaknya bisa membantu saya," jawabku, begitu melihat Fadil anak tiriku, mengintip di balik pintu ruang periksa.

***

"Pak Hasan sedang dalam kesulitan. Rumahnya tertimpa pohon karena angin kencang. Ada dua tetangga datang membantu, kemudian tiga tetangga menyusul datang. Jadi Fadil, Sayang. Ada berapa orang tetangga yang datang menolong Pak Hasan?"

Sebisa mungkin, aku menamamkan pendidikan karakter padanya. Kelak Fadil lah sosok yang akan menjaga kami berdua.

"Hmmmm. Lima! Menolong itu adalah tenggang rasa ya, Ma?"

"Iya tepat sekali, Pintar. Sekali lagi ya. Ada lima orang anak yang datang terlebih dulu ke Masjid, untuk bertakbir di malam Idul Fitri. Lalu lima menit kemudian ada ada tiga anak lagi. Jadi berapa jumlah anak yang bertakbir di Masjid di malam Idul Fitri?"

"Hmmm lima di dalam hati. Lalu ditambah tiga. Jadi enam, tujuh, delapan. Semua ada delapan, Mah."

Ketegaranku hampir runtuh. Kuseka pucuk air mata di sudut mataku cepat-cepat. Iqbal punya putra yang sangat baik dan pintar. Tapi malah meninggalkan kami lantas mengirimkan surat gugatan cerai. Fadil berjiwa polos, bersih dan murni. Dia menghukum Ayahnya dan bersikeras menolak tinggal bersamanya.

Oh ya ampun. Dini ternyata berkunjung. Dia mematung di depan pintu. Air matanya berderai menyaksikan hangatnya keluarga kecil kami.

"Tante!" jerit Fadil.

Setelah mencium punggung tangan Dini, Fadil lalu berlarian di sekeliling Balkon Cafe, bercanda dengan para karyawan.

"Jangan sedih Din. Hidup ini akan berubah. Contohnya dirimu. Kamu tidak lagi menikahi manusia es, kan? Dia mencair oleh suhu hangat, sebelum Mbak Anggiieuun jadi duta shampo lain," ucapku bercanda. Dini mencubit lenganku kemudian memelukku sejenak.

"Seseorang mengirimkannya untukmu," ucap Dini kemudian.

Aku cuma terheran-heran saat melihat kotak bekal berisi sayur, buah-buahan dan daging olahan. Lalu karyawan cafe malahan membawakanku susu.

"Apa-apaan ini?"

"Orang itu berkata, kamu harus makan."
"Orang itu? Siapa orang itu?" tanyaku penasaran.

"Dia yang peduli padamu dari jauh," jawab Dini sambil menyuapkan daging dan nasi ke dalam mulutku.

"Aku akan makan sendiri," ucapku kesal.

Secara rutin Dini datang ke rumahku. Menjaga sampai menemaniku periksa. Dia juga mau mengantar jemput Fadil ke sekolah. Katanya dia wanita pengangguran, suaminya tidak kunjung pulang karena studynya belum selesai.

***
Di penghujung Maret 2017. Dini mengirim pesan tidak bisa datang, dia pergi ke Surabaya untuk acara keluarga. Entah apa yang terjadi. Ini baru kehamilan pertamaku. Aku merasa perutku sakit luar biasa. Melihatku begitu, Fadil menangis ketakutan. Kami memang sedang di rumah berdua.
Aku menyuruhnya minta tolong ke tetangga. Tapi menurutnya semua pintu tertutup. Saat telpon ambulance, katanya mobil juga sedang dipakai.

"Coba telpon dokter," ucapku terbata-bata.

Dokter Fathir tidak mengangkat telpon. Mungkin dia sedang ada di ruang operasi.

"Mama telp taxi saja," saran Fadil, sambil terisak-isak.

Akhirnya aku menelpon taxi. Sempat kudengar Fadil membantuku bicara.

"Mamah saya kesakitan."

Setelah itu, aku tak peduli apa yang terjadi. Sepertinya aku hampir hilang kesadaran.

***

Selepas pekat begitu lama, akhirnya aku bisa mendengar suara Adzan. Terdengar jauh sekali, tapi aku sempat tersenyum memikirkan andai itu adzan yang dikumandangkan di telinga anakku. Mungkin aku sedang menjalani proses kesadaran. Begitu berhasil siuman, kulihat deretan gigi Fadil meringis. Aku sempat mengacak rambutnya, sebelum dia menghilang di balik pintu.

Ternyata ada seseorang berdiri di dekat jendela. Aku baru tahu, itu dokter Fathir saat dia membuka maskernya.

"Selamat. Bayi perempuan sehat dan menawan," ucapnya sambil menjabat tanganku.
"Dokter Fathir! Terima kasih."

"Sebenarnya saya sedang marah hari ini, dimulai sejak waktu itu. Hari di saat mata anda berkaca-kaca, di hadapan saya. Saya menyesal kenapa menyaksikan seorang laki-laki yaitu dari jenis saya, bisa kehilangan isi kepalanya sekaligus hatinya. Dan saya berdoa masih memiliki keduanya."

"Dokter?"

Anda sangat to the point. Orang lain berpikir sepuluh kali untuk menyinggungnya. Mungkin memilih waktu tepat. Saat aku sudah bisa bangun. Duduk-duduk di gazebo sambil memakan pie bersama teh hangat. Tidak di ranjang pasien dengan tubuh hanya ditutupi selembar kain seperti sekarang.

"Bu Tantri, sebenarnya saya datang sebagai kakaknya Dini, hari ini."

Aku tertegun. Ternyata, dialah yang sudah meminta Dini untuk menjagaku. Ya Tuhan, dia Fathir Abdul Fattah. Kakak ipar Dini yang awalnya ada di Singapura.

"Adik saya bilang, anda wanita yang baik meski dalam situasi buruk. Kemudian saya berkata padanya, bagaimana jika saya menjadikan dia saudaramu? Dan rumah ini menjadi ramai oleh jerit tawa anak-anak bersama tangis bayi. Dengan antusias Andini berkata setuju."

Aku hanya melongo. Sebenarnya tahu maksudnya tapi belum begitu yakin. Percayalah, kita tak harus begitu yakin tentang situasi baru, sebelum benar-benar memastikannya.

"Maksud Dokter?"

"Jika Tantri mau. Saya berharap menjadikan aku dan kamu menjadi kita. Together until the end. Oya, ada bunga di sana buatmu, hati-hati dengan jahitannya saat bangkit. Kamu baru boleh makan setelah buang angin. Saya harus pergi untuk operasi berikutnya."

Lima menit setelah Dokter Fathir pergi. Rasanya masih belum sanggup bergerak, itu semacam shock. Sebenarnya, jadi percaya jika dia adalah kakak kandung Raihan. Sepuluh menit berikutnya aku baru paham kalau dia sedang melamarku. Dan akhirnya, bertambah yakin begitu menemukan cincin di buket bunga mawar putih yang dia letakkan di meja pasien, lima belas menit kemudian. Jadi apa aku boleh menangis haru saat tahu itu cocok di jari manisku, sekarang?

Trenggalek, 1 April 2017

[RD] Ilustrasi

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Rainbow Rowell

Finding Samara