Bertemu Fans Suami



Dulu sebelum nikah, gue pernah bayangin. Kalau pasangan yang sama-sama penulis itu, saat ngalami masa rukun, saling surat-suratan romantis. Begitu berantem sindir-sindiran di sosmed. Tapi kenyataannya enggak. Gue dan Abang Kanda cenderung diam-diaman. Hal yang sejujurnya nyiksa gue dalam rindu tak berujung. Ya Allah.

Meskipun gitu, gue diam-diam ngintip dari jauh. Meet and greet Abang di Toko buku Dream Media. Yep, sebenarnya, dia memang punya banyak fans. Kata mereka, Cheng Ho adalah penulis cerdas berwawasan gokil yang pernah ada di Indonesia. Tapi anehnya, gue yang isterinya, malah kalem sambil sering bertanya-tanya. Dia sebenarnya nulis apa coba? Kalau ditanya awal suka padanya. Justru gue suka keahliannya di bidang arsitektur. Dulu, nggak pake acara romantis ngasih puisi sepanjang satu meter, gue terpesona lihat desain Masjid yang dibuatnya untuk kampus kami.

"Permisi. Boleh duduk di sini, Kak?"

Ada remaja cewek yang memegang ice cream di tangannya. Mulutnya terlihat berlepotan.

"Silakan, butuh tissue?"

"Terima kasih. Oya, Kakak ko duduk di sini sendirian?" tanyanya, kepo.

Nah. Gue jadi bingung musti jawab apa. Masak iya, bilang kalau lagi ngintipin Cheng Ho di dalam.

"Tadinya mau beli buku. Tapi kayaknya masih ramai, Dik."

"Oh iya. Diva juga males, Kak. Aku nggak ngefans ma Koko Cheng Ho."

Wah! Menarik nih. Dari sekian juta orang di negeri ini. Hanya ABG ini yang pendapatnya sama kayak gue.

"Kenapa Div? Maksud Kakak, kenapa nggak ngefans sama Ab eh Koko Cheng Ho?"

Dia lalu bercerita panjang lebar. Meledak-ledak seperti petasan. Ternyata dia juga mendem niat pengen jadi penulis. Tapi berujung gagal.

"Ibaratnya nih Kak. Kita yang udah idealis banget nulis, nggak dilirik sama siapa-siapa. Nah, orang-orang yang kayak di dalem. Cerita dia pas lagi jalan-jalan ma kucingnya lalu kucingnya pup di jalan aja, pas di post di sosmed jadi viral. Konyol nggak sih?" gerutunya.

Gue mendadak pucet denger pendapat ini bocah. Kalau dia tau kucing yang diajak jalan-jalan Abang itu sebenarnya kucing gue. Udah nggak tau jadinya nanti. Dia bakal cakar-cakar wajah gue, karena merasa dibohongi.

"Jadi Diva sebel ma dia?"

"Yep. Diva ngebayangin dia punya banyak akun kloningan. Yang selalu bantu like and komen di tulisan dia. Sekaligus sering ngunjungin blognya sendiri. Lagipula dengan ketampanan Koko dia nempel terus di owner kerajaan bisnis penerbitan besar yang lagi ini banget di Indonesia. Jadi seseorang setia dan selalu dikasih kesempatan. Sedang Diva apa Kak? Hanya orang yang selalu gagal dalam berjuang."

Wow. Meskipun negatif thinking banget. Si Diva ini punya imajinasi sangat tinggi. Dia lebih cocok jadi mata-mata agen rahasia saat dewasa nanti. Atau jadi emak-emak super kece yang teliti banget saat punya suami genit.

"Diva. Kak Mara pengen lihat tulisan kamu."

Matanya berbinar dan kelihatan seneng. Dia pasti merasa lega ada yang penasaran ma karyanya. Lalu dengan tergesa dia ambil smart phone dari tas, diotak-atik sebentar lalu diserahkan ke gue. Gue lantas baca dengan seksama. Dan serius, ternyata dia tak sekedar omong kosong. Imajinasinya memang tingkat tinggi. Tulisannya jauh lebih idealis dan berbobot dari pada orang yang lebih tua darinya. Dalam hal ini, gue maupun Cheng Ho. Dia seperti buku dan pengetahuan yang berjalan.

"Diva. Kak Mara cuma pengen kasih semangat."

Dia lalu menyimak dengan ekspresi lucu. Sekalipun gue belum pernah sesukses Ho. Tapi gue pengen dia punya semangat hidup. Bara api yang tak pernah padam meski diguyur hujan dan cobaan.

"Jangan lelah berdoa kepada Tuhan untuk diberi kesempatan. Dan cari penerbit yang visi misinya sama seperti karakter tulisan Diva. Memang, itu butuh waktu lama, tapi semua orang mengalaminya. Misalnya gini, Diva pas sekolah pernah lewat jalan berlubang-lubang, tidak? Dan bisa dibilang itu jalur tunggal."

"Pernah. Di dekat sekolah. Dan tidak alternatif jalan lain. Harus lewat itu."

"Nah. Begitu. Orang lain juga mengalami hal serupa. Harus berusaha lewat jalan yang sama seperti Diva. Satu lagi hal yang mungkin akan membantu. Seperti contohnya bersosialisasi bahkan mencoba unik atau berbeda. Supaya terlihat. Semangat!" ucapku sambil menepuk punggungnya pelan.

Gue seneng lihat dia terlihat sumringah. Lalu dengan semangat dia minta tukar nomer ponsel, pin bbm, email serta akun di beberapa sosmed. Lalu setelah itu dia pamit pergi dengan ucapan terima kasih.

Sepeninggal Diva, gue kayak bosan sekali sendirian. Dan acara di dalam terlihat masih lama. Akhirnya, gue baca buku sambil terkantuk-kantuk. Dan terbangun mendadak saat ada suara.

"Sayang. Aku nggak tau kalau kamu dateng. Sampai ketiduran lagi, jadi kamu sudah tidak ngambek lagi kan ya?" ucap Ho kalem, di antara kondisi gue yang masih nggak ngeh. Antara masih ada di alam bawah sadar sekaligus di kehidupan nyata.

"Ya," jawab gue lirih.

Meski masih ngambek, gue nurut saja saat dia gandeng gue menuju parkiran.
Gue pikir kami segera pulang, tapi dia malah diam termangu, tanpa punya hasrat untuk jalan. Sepertinya masih mikir keras atau lebih tepatnya, terlihat berduka. Iya, gue lihat Cheng Ho murung. Matanya berkaca-kaca.

"Ada apa?" Rasanya masih sulit memanggilnya Abang Kanda dengan mesra. Tapi gue harus peduli padanya saat ini.

"Fans setia aku, ada yang meninggal tadi pagi. Kena serangan jantung di usia dia yang masih belia."

"Innalillahi wainnaillaihi rojiun."

Pas Ho kasih ponselnya ke gue. Dan lihat foto profil akun istagram gadis itu. Jantung gue nyaris lompat ke tenggerokan. Itu kan Diva, iya benar. Nggak salah lagi. Bukannya tadi dia ....

"Kita takziyah ke rumahnya, yuk?" ajak gue.

"Serius? Dia di Surabaya."

"Iya serius, kita naik pesawat saja biar cepet. Dan kita minta ijin ke orang tuanya buat bantu nerbitin novel-novelnya. Aku yakin itu yang dia inginkan."

"Dia menulis? Dari mana kamu tau itu yang dia inginkan?"

"Iya. Aku yakin. Entahlah."

"Sayang?"

"Entahlah. Dia menemuiku."

Lalu Ho bertambah bingung. Ketika gue mendadak memeluknya, lantas terisak-isak di balik kemejanya.

"Lalu, Abang harus janji sama aku. Sekalipun Abang sudah populer. Punya banyak iklan, buku best seller, dan karyanya sudah difilmkan. Abang Kanda tidak boleh berubah. Lalu tidak memerhatikan lagi kualitas. Dan membuat satu di antara seribu fans kecewa."

"Sebenarnya bingung. Tapi aku percaya kamu punya alasan kuat yang pada dasarnya baik untukku. Meski tidak janji bisa sesempurna itu. Tapi, ya. Aku akan berusaha," jawabnya sambil mencium puncak kepala gue dengan sayang.

Untuk sekali lagi. Gue melirik foto Diva. Gadis remaja manis, yang begitu pertama bertemu di dalam mimpi, wajahnya tak lekang dari ingatan. Tenang di sana, ya, Sayang. Namamu suatu hari akan tertulis di sebuah buku dan abadi di setiap benak pembaca. Aamiin.

[RD] Sumber Gambar Tertera
Trenggalek, 15 Februari 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rainbow Rowell

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Finding Samara