Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Suaramu

Apa itu kau? Suaramu
yang memanggil-manggil aku
supaya menoleh dan berdelusi

Sekali lagi. Suaramu berhembus
dari dasar telingaku, yang mudah bengkok dan tuli kerasukan percik air mandi.

Itu kah kau? denging pesawat yang melintas
terbang bersama burung-burung
di atas ribuan kaki

di antara lututku yang gemetar
dan kerap kau curigai
sebagai penumpang ilegal

dijatuhkan ke bumi, demi mencicip lumpur dan mengulang-ngulang kata ganti
gagal menghapal nama jalan-jalan, yang tak pernah lolos dari mata rautan

Itu pasti suaramu yang samar-samar melambai-lambai hendak mengatakan, Hati-hati di jalan ya, tapi sebelah tanganmu adalah tongkat Musa
yang mampu memisahkan laut merah.

Di seberang jalan, suaramu terdengar terluka. Aku apalagi.

Sekejap semuanya menjadi kramat
tapi kau terus memanggil-manggil supaya aku terus terserap dan menggigil

di balik jaketku, kau biarkan
aku terseok-seok
menyebrang jalan itu.

[AW]

Menanti Kau yang Setengah Aku

setiap kali aku merasa aku manusia setengah laki-laki dan setengah ibuku adalah perempuan pertama yang kujumpai adalah tubuhmu, di pasar malam itu, kukira inilah hari terakhir ketika aku bisa memandangmu.

lebih lama, perlahan-lahan kusipitkan kuintip kau kupejamkan mataku; sebuah desa tumbuh menyerupai kota kecil, lengkap dengan liuk dan orang-orangnya yang kerdil dan saling membelah terlalu banyak hingga menambahkan kemacetan di antara sungai-sungai, rumah salin, swalayan yang menyediakan highheel agar mereka bisa berpura-pura lebih tinggi, lebih bahagia karena bisa menjadi diri mereka.

keheningan kehilangan kegiatan kata-katanya mencari teman menyanyi, tertiup angin suaranya ke arah yang tak pernah mampu kita cintai dengan sepadan sebagai celoteh atau candaan kekasih.

lalu kau yang ceria dan setengah bersemangat membetulkan kedurungmu, memilih kata berangkat, sekarang! sementara aku mengutus diriku untuk mengusir rasa ingin tahuku yang gelisah di balik pintu kau menemukan kunci l…

Eskapis di Rumah Sakit

Yang Diinginkan Sembuh Kapada yang Sakit
di rumah sakit.

menunggui yang sakit.
jubah suster cantik
tak pernah bisa menggantikan
pikiran-pikiranmu dengan remeh-temeh muasal kita
dilahirkan hanya untuk tahu
ketidaktahuan bagaimana
sebaiknya
kesedihan itu dibunyikan.

Seperti derap langkah sepatu
suster itu?

Tak ada
orang yang ingin membikin sajak
dari suara gesekan
antara rentetan mata runcing
jarum suntik dan senyum di balik kain
masker yang dikulum.

di samping ranjang
orang-orang bersandar
pada harapan kelewat matang
seperti bubur, yang menunggu
diamalkan waktu kepada tisu

waktu itu: kamu memilh menangis
sebelum akhirnya kembali lagi
sibuk mengisi teka-teki
dengan barangkali-barangkali...

dua anak kecil. berlarian
tertawa, bertahan
dari kepungan-kepungan sunyi
sebelum langit mampu
dinamai: hari esok
yang biru seperti sendok pispot

riuh jantungmu..

menunggui yang sakit
meringkuk di kolong ranjang
terantuk-antuk
membaca buku harian
hidupmu, yang kata pengantarnya
tak pernah berani kamu t…

Ia Ingin Naik Kelas

Ia ingin naik kelas.
Tapi buku yang ia baca
tak dapat ia jangkau
hanya bisa ia eja:

"a... b... a...
d...
d... a...
r... a...
h... l...
u... k...
a... Ah, susah ya!"

Ia terpekur,
mendongakkan kepala
ke kusen jendela: serbuk kayu,
rayap, bekas tempias dan
warna biru
yang dihisap cuaca.

Ia pun kembali mengeja
keras-keras

"Es... A...
Ye... A...
Es... I...
A... Pe... A...
Aduh, bingung--"

Ia mengurut kening
huruf-huruf berdengung
di dalam sana seolah-olah
bunyi terlempar di dinding goa

"Aku ingin naik kelas," ucapnya.

Seperti doa.

[es ha]

Menghentikan Pagi

Gambar
Ilustrasi

: tentang laki-laki yang mencintai K

Ia menghentikan pagi. Menghentikan pagi seperti
menggunting rubrik puisi pada koran akhir pekan.

Ke kotak suratmu ia kirimkan. Ia kirim sejuta
potret hijau dan jernih cuaca

'Jadilah engkau bahagia,' ia berkata, sambil
diam-diam ia tanggungkan isyarat

itu lagi: tetes sisa hujan malam, di teritisan
ketika terlambat matahari.

[Es Ha]

Tuhan Membuat Sore

Gambar
Ilustrasi

Sekumpulan orang letih
berkemas
dan bergegas untuk 
pulang.


16.10
suara yang menikung 
cukup riuh, iring-iringan


delapan sepeda motor
mengagetkan,
meluncur pelan
lalu berpencar


Di sana, ada
beberapa orang masih 
berusaha keras
merampungkan angan-angan
memandangi batu-batu
batu yang tadinya kering
(bercakap-cakap tentang batu)
sekarang memerah
(kemudian mereka pergi) 


Lalu tempat itu menjadi sepi,
bukan kosong.
riuh pun kita
tidak akan (pernah) diizinkan
menikmati percakapan kayu-kayu
tembok-tembok
semen, pasir,
bata dan takdir.


Topi yang tertinggal
(atau sengaja ditinggal?)
oleh pemiliknya
pemilik yang sejak tadi
tidak berhasil 
menyalakan korek api
pada akhirnya 
mereka pulang: 
orang-orang
yang berusaha keras
untuk tabah.

[EB] 2017

Sepotong Lanskap pada Sketsa

Gambar
kisah buat K

Di studio:
musim menahan waktu
ketika malam menautkan dingin
ke dinding

Di pigura: kaki bangau
tercelup danau tapi sketsa tanpa warna itu tak mengerti mengapa
perempuan itu menatapnya
dan terpukau Lihat, katanya, lihat telapak
langit dan skema rasi, aku
jadi ingin merontokkan bintang
dan menaruhnya pada topi!
Siapa yang mengarsir daun-
daun trembesi itu, sayangku? Tidak tahu. Mungkin,
seseorang ingin menitipkan tangis? Atau laki-laki majenun
yang rapuh tapi tetap
berjalan
Mengapa kita jatuh cinta
dengan pelan tapi cemas seperti
garis-garis gerimis
yang murung
di bawah lampu di ujung
jalan dan bangku yang dipeluk kabut
Karena kabut membikin kita
hangat dalam tandatanya.
Tapi tak ada kabut pada
sketsa, sayangku, katanya.
Ia pun tertawa.
Dan ia, dalam kisah kecil ini,
hanya menatap sketsa di dinding studio tua, terpejam
berdiri Ia bayangkan
ia terbawa angin santai.

[es ha] Ilustrasi

Pulang Katamu?

Gambar
Saya sebenarnya ingin kabur Karena saya merasa harus kabur Tujuan saya adalah tidak boleh menengok Tapi tidak bisa.Saya merasa punya mata  di belakang kepala saya, sehingga  pun jika saya pergi, saya hanya akan menambah kebingungan diri saya sendiri
Saya mempercayai mata depan saya di lain itu, saya juga mempercayai mata belakang kepala lainnya
Mata depan akan menuntun saya ke depan sementara mata belakang  memandu saya berjalan ke arah sebaliknya saling menarik-saling membisikkan Membikin saya bingung, hingga  menahan langkah kaki saya berayun tak bisa kabur
Saya berdiri di trotoar. Kadang-kadang saya ingin melihat apa yang terjadi  di depan sana, namun mata belakang itu tak mau kalah membikin saya penasaran
ditambah kata-katamu sempat  kau ucapkan pada saya tempo dulu:
"Jika kau lelah, dan  kepalamu bagai keledai yang  tak henti-hentinya menarik  gerobak barang, anak nakal, pulanglah!" 
Pulanglah ke dadaku. 
Aku ingin persilakan kau duduk dan menarik napas.
Akhir-akhir ini, aku r…

Jatuh Cinta

Gambar
Kau sedang jatuh cinta. Kau tersenyum setiap waktu. Kau bahkan tersenyum setiap itu bukan moment lucu. Ibumu, yang sedang mengupas kulit kentang di dapur curiga anaknya mulai sinting, bertanya, “Ada apa?”
Tidak ada apa-apa batinmu. Lalu kau kembali tersenyum. 
Sebenarnya ibumu tahu. Karena toh, beliau pernah muda sebelum beliau tak  punya kesempatan menolak tua.
Di dadamu sedang ada banyak kupu-kupu warna-warni. Yang berterbangan mengitar-ngitar di sana indah sekali. Binatang bersayap pelangi yang merentang ringan di sela-sela udara paru-paru itu. Binatang kecil yang sudah lama sekali ingin kau temui di alam mimpimu yang kabur dan suram. “Setelah hari-hari buruk, mimpi-mimpi buruk, dikejar-kejar anak biawak, keponakan biawak dan paman biawak,” batinmu lagi. “Akhirnya....” Kau kembali tersenyum lega sambil menatap udara kosong di hadapanmu.
Ibumu, yang sedang memasak di dapur, dengan ekor matanya menoleh. Ke arahmu. Kau tahu itu. Tapi kau memilih tidak peduli. Maka Ibumu dengan posisi pisa…

Kejutan

Gambar
Baru kemarin aku berkata pada diriku , aku masih Tantri yang dulu. Wanita Indonesia yang dilahirkan dari beberapa perpaduan warna. Kombinasi Arab-China-Bali dan Jawa. Berhidung mirip kakek dari Mama, bermata lebar mirip nenek dari Papa, dan mewarisi kulit pucat Mama. Namun saat bercermin, aku menyadari kini telah berubah.

Di titik terendah dalam hidupku ini, ada beberapa hal telah membaik. Aku tidak lagi mendapati sahabatku menangis sesenggukan dalam pelukanku karena pengabdiannya tengah diuji. Tak banyak wanita sabar jika diabaikan. Tapi Andini tetap melakukannya. Dia berjuang menjadi menantu sekaligus istri setia. Jiwanya jauh lebih tangguh dari pada aku, kupikir itulah positifnya sahabatku Dini.

Dini juga menciptakan keajaiban-keajaiban kecil di cafeku. Kami mengecatnya bersama-sama. Lalu menanam bibit-bibit lavender, sun flower dan mawar di halaman. Kadang sesekali di akhir pekan dia datang. Kami mencoba resep-resep baru, sebelum meletakkannya di daftar menu.

Percayalah, aku ju…

Pulang

Gambar
Minggu terakhir April. Aku menyimak Raihan memainkan tuts tuts piano di ruang keluarga kami yang hangat. A Thousand Years mengalun lembut. Sejujurnya, momen ini membuatku terharu. Beberapa hari setelah ini, mungkin aku akan sangat merindukannya.

Kalimat-kalimat tanya menggantung dalam benak ini. Sulit sekali terucap dari mulutku. Misalnya, benarkan kamu akan meninggalkanku? Kumohon jangan. Tapi begitu dia memutuskan, rasanya sulit untuk merubahnya.

"Din! Jaga Mama, ya?"

Aku hanya menggangguk. Kusandarkan kepalaku di pundaknya tanpa bicara apa-apa.

***
Aku tinggal serumah dengan beliau yang tidak begitu menyukaiku. Entah seberapa besar aku berusaha.

Suatu hari saat pembantu pulang karena anaknya melahirkan, dia tidak menyentuh masakanku. Seingatku aku sudah mematuhi pesan-pesan Raihan. Masakan tanpa gula, rendah kolesterol. Dan dalam beberapa waktu aku terus membujuknya.

"Mah, waktunya makan."

"Bosan dengan itu itu, Din," keluhnya.

"Meski Raihan …

Batas Pagi

Gambar
Hari apa sekarang, Lis? Berhari-hari aku mengingatmu tak satu pun aku ingat apa salahku, atau salahmu seandainya kita tidak bertemu. Perasaan wajar begini siapa sangka justru membikin kita berpisah.
Dari balik kepalaku, belakang pundakku, hari-hari berlalu menambahkan cahaya lalu kenyataan bagai sejarah yang dipimpin Josef Stalin mematikan orang-orang yang tak disukainya. Sakit yang tak pernah bisa sekedar ditanggung atau ditampung secangkir kopi.
Lis,
Adakah kita perlu beranjak? Memakai mantel bulu lama kita, yang setengah abad tergantung di belakang pintu kamar untuk pergi ke taman, rumah binatu yang tak pernah bisa benar-benar membersihkan pikiran-pikiran kita?
Dari jarak seratus meter, tak pernah cukup dekat. Tidak juga jauh orang-orang memerhatikan kita. Dengan satu pertanyaan lelah dan ragu yang diajukannya, "Ya. Mengapa kita di sini?" "Apa Anda sendirian saja? Seharusnya Anda tidak sendirian saja keliaran di taman ini!" "Bisakah Anda kasih tahu saya, sediki…

Perkara Kamu dan Pelukan Itu

Gambar
sejak dulu aku sudah curiga
kau laut yang tak bisa tumpah
dasar gelombang yang tak ingin
membuatku tenggelam
magenta mahir memulihkan warna mata ikan-ikan 
camar yang tak lagi suka
menyamar kesedihan gadis kecil sejak mula lahir, akulah paling pintar menyaru
kugubah pasir-pasir,
cangkang sepatu, atau apa saja
yang bisa menyerupaimu
seorang yang
alasan satu-satunya aku
berguru pada kepiting sepertimu
dari hidup yang sebentar
namun terus-terusan
membuatku miring dan memar dunia paling ganas, kekasih, oh
menyimpan luka perih sia-sia
di tubuh anak petani sepertiku
yang tak pernah bisa
mengajari
batang kelapa, anak-anak angin
menyanyi atau bersiul
di tepi pantai
ketika tak ada yang sama
caramu menyeka dan merangkul
paling hangat.

Ilustrasi [AW]

Bertemu Fans Suami

Gambar
Dulu sebelum nikah, gue pernah bayangin. Kalau pasangan yang sama-sama penulis itu, saat ngalami masa rukun, saling surat-suratan romantis. Begitu berantem sindir-sindiran di sosmed. Tapi kenyataannya enggak. Gue dan Abang Kanda cenderung diam-diaman. Hal yang sejujurnya nyiksa gue dalam rindu tak berujung. Ya Allah.

Meskipun gitu, gue diam-diam ngintip dari jauh. Meet and greet Abang di Toko buku Dream Media. Yep, sebenarnya, dia memang punya banyak fans. Kata mereka, Cheng Ho adalah penulis cerdas berwawasan gokil yang pernah ada di Indonesia. Tapi anehnya, gue yang isterinya, malah kalem sambil sering bertanya-tanya. Dia sebenarnya nulis apa coba? Kalau ditanya awal suka padanya. Justru gue suka keahliannya di bidang arsitektur. Dulu, nggak pake acara romantis ngasih puisi sepanjang satu meter, gue terpesona lihat desain Masjid yang dibuatnya untuk kampus kami.

"Permisi. Boleh duduk di sini, Kak?"

Ada remaja cewek yang memegang ice cream di tangannya. Mulutnya terliha…

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [2]

Cerita Sebelumnya...
Kisah cintaku berakhir satu tahun lalu. Meski sudah berlalu 12 bulan atau 365 hari, atau 8760 jam atau 525.600 menit atau hasil fantastisnya 3.1536.000 detik lalu, aku masih saja mengingatnya dengan detail. Seperti bayi, yang lupa alasan ia menangis untuk apa, aku melakukannya begitu saja. Dan kadang aku juga berpikir, untuk apa aku mengingatnya. Aku hanya memang memikirkannya, mantan pacarku itu.
Dia memiliki napas yang lembut, suara yang khas seperti siualan kerang, dan tatapan matanya, oh, yang teduh meski dia sedang marah dan kesal pada orang lain. Matanya seperti mata balita yang memohon padamu jika dia memiliki kesalahan tolong dimaafkan. Dia jarang tertawa, dia lebih suka mengulum bibirnya. Sesekali dia membasahi bibirnya itu hanya untuk memberi ruang kepada orang lain untuk bicara. Jika aku berusaha keras membuat adegan lucu, sok lucu, atau bertingkah konyol untuk membuatnya tertarik, dia justru mengapresiasi usahaku dengan mengelengkan kepala, lalu sekeras…