Mata Bidadari

Mata Bidadari

Pagi tengah hening bertasbih, disaksikan ribuan malaikat seperti biasa. Jarum jam bergerak lambat kemudian bergulir lembut ke waktu dhuha yang hangat.

“Selamat pagi!”

Uhuk! Aku hampir menelan cangkir kopiku ketika melihat Alya berbeda dari biasanya. Selama dua puluh dua tahun aku memang belum pernah melihatnya melepaskan hijab. Kuperhatikan malah semakin panjang, saat dia memutuskan bersedia tinggal seatap kamar bersamaku.

“Tak disangka pas musim penghujan, kebetulan mesin cuci rusak. Ini pasti hari mencuci baju,” godaku.

Bias merah membingkai wajah ayu Alya. Sebenarnya bukan istriku yang salah. Kadang kala sekali waktu, jika tengah menjadi suami khilaf, aku membelikannya baju rumah. Mungkin dress gold akan cocok di kulit coklatnya, syukurlah jika tidak kebesaran di tubuhnya yang ramping. Astagfirlahhalazim, tentu saja, aku tidak ingin sengaja melihat kakinya yang jenjang. Apapun itu, aku hanya bisa mengucapkan, Masya Allah ternyata aku memiliki kekasih cantik.

“Yusuf! Lebih baik lihat dirimu. Aku tak menangkap ada warna kemeja serasi dengan dasinya. Kenapa seleramu terhadap keindahan sangat buruk?” tegurnya. Kutebak untuk mengalihkan perbincangan seperti biasa.

“Memang. Andai kamu mengurusku sedetail saat aku masih ada di taman kanak-kanak,”
jawabku asal.

Alya tertegun. Jangan bilang aku sudah secara tak sengaja membicarakan hal yang membuatnya tertekan.

“Biar kuambilkan,” ucapnya, seraya bangkit, masuk ke kamar kemudian kembali membawa dasi baru.

Dia menukar dasiku dengan penuh kesabaran, masih tanpa sepatah kata. Lututkulah yang gemetar, persis bersama debar jantungku. Benarkah aku sedang jatuh cinta pada Alya? Padahal dia selalu memunggungiku saat tidur dengan membawa rasa bersalahnya.

Anganku terhempas ke masa lalu. Tepat saat Alya untuk pertama kalinya marah padaku. Aku hanyalah pemuda dua puluh tahun yang keras kepala saat itu.

“Dari jaman primitif hingga modern peradaban memang berkembang. Tapi etika dan norma selalu konsisten. Apa yang akan dikatakan dunia, jika Yusuf menikahi Kakak? Aku yang memberimu nama, menggendongmu kemana-mana bahkan kamu sering mengompol di bajuku. Sungguh itu tidak pantas.”

“Kita tidak sedarah,” jawabku bersikeras.

“Cukup! Kamu hanya kasihan pada wanita tiga puluh tahun yang masih sendiri,”
tolaknya.

“Jika itu masalah umur. Kenapa kita tidak melihat Baginda Rasul yang menikahi Khadijah, padahal usia beliau terpaut jauh?”

“Hatimu tidak sesempurna beliau. Mungkin aku akan tua lebih dulu, lupa padamu dan pada diriku sendiri.”

“Bahkan jika kamu mulai lupa tempat buang air, akulah yang akan mengurusmu,” jawabku yakin.

Itu pertama kali aku melihatnya menangis di hadapanku. Sesulit apapun hidup kami, dia selalu merahasiakan air matanya dariku. Hanya Allah yang tahu, kenapa pernikahan ini sampai terjadi.

“Yusuf!” aku terhenyak, kembali ke masa depan.
Itu tempat di mana aku dan Alya telah membina rumah tangga, meski dengan berbagai penyesuaian.

“Iya?”
jawabku gugup.

***

“Yusuf,” panggil Alya lirih.

“Itu aku. Apa yang kamu harapkan saat memberi nama pada bayi malang yang kamu temukan di depan pintu rumahmu? Dia bahkan dicampakkan oleh orang tuanya.”

"Dia akan jadi manusia terpuji, meneladani Rasul. Jadi aku memberimu nama depan Muhammad. Tentu saja kamu akan jadi pria sholeh, dan kuputuskan itu merupakan nama tengahmu. Sedangkan nama belakangmu, kuberikan karena kamu bayi yang sangat tampan.”

“Muhammad Sholeh Yusuf. Itu indah, Sayang. Terimakasih.”

Aku mengecup keningnya pelan. Memeluk tubuhnya yang sudah rapuh dan sepertinya kesakitan.

“Kamu masih sakit?”

“Mungkin orang yang sudah tua, akan sering merasakan sakit seperti ini,” jawabnya pasrah.

“Bersabarlah. Kamu tahu ada empat malaikat yang mendatangi orang sakit? Salah satunya mengambil dosa-dosanya. Begitu orang tersebut sehat, dia menjadi bersih."

“Aku tahu, tapi aku mulai kawatir datang malaikat ke lima."

Mulutku tercekat. Aku tak bisa menahan air mataku terjatuh kemudian memeluknya semakin erat.

“Kenakan baju serasi, aku suka melihatmu rapi. Aku sempat menulis semua resep bumbu dan kutempelkan di kulkas, sementara kamu sendiri. Hindari terlampau banyak minum kopi, jangan pernah sentuh rokok. Jagalah kesehatan, aku mencintaimu.”

“Kamu boleh mengingatkanku setiap hari, aku juga mencintaimu,” balasku.

Lama-lama dia diam. Itu membuatku cemas. Mata beningnya mendadak menatapku akrab, penuh cinta kasih. Itu seperti kenangan yang kumiliki saat kecil.

Tiba-tiba dia berbisik, mengucapkan dua kalimat syahadat, menyusul senyum tipis bersama ekspresi penuh kedamaian khas Alya. Terlambat kusadari, kalau itu untuk terakhir kalinya.

Innalillahiwainnaillaihirojiun. Mendung di atas dermaga mendadak berarak-arak pagi ini. Turunlah gerimis. Langit ternyata turut bersedih, menemani kepergian bidadari masa lalu sekaligus masa depanku. Alya El Firas.

Trenggalek, 10 Februari 2016
By: [RD]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rainbow Rowell

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Finding Samara