Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir

Menurut novel yang pernah gue baca, kalau tak salah ingat berjudul 'Hidup Ini' yang ditulis oleh penulis gagal dan gaje, Rini Dwi. Bahwa di antara kegelisahan yang dialami para jomblo adalah diciptakannya acara bernama reuni. Entah anugerah atau musibah, Tuhan mendadak memberi solusi. Yaitu di hari yang sama, gue diberi kehormatan untuk datang ke pernikahan mantan.

Oke. Kalau boleh jujur, gue milih dateng ke acara pertama. Atau sekalian nggak datang ke keduanya. Nyempil di ruang tivi sambil ngemil, lalu nonton movie bergenre romantis sad ending, yang bikin gue punya alasan untuk nangis-nangis. Namun apa daya, gue cuma salah satu jomblo yang terikat kontrak dengan wedding planner.

"Everybody, pada hitungan ketiga. Please kalian bilang, cheese. Satu, dua, tiga!"

"Cheese!"

"Next, yang gokil ya! Dalam hitungan ketiga bareng-bareng teriak, tempeeee! Satu, dua, tiga."

"Tempeeeee!"

Dan tibalah pada detik mendebarkan. Di saat gue harus mengabadikan momen cinta kasih antara mereka berdua. Pasangan Nanang Firmansyah dan mantan gue Nasanti. Dipersatukan dalam ikatan suci dan sakral bernama pernikahan. Sungguh gue bisa bilang, ini dramatis sekali. Sumpah.

Sepulang dari acara tersebut, gue berjalan dengan tatapan nanar. Memandang selusin pasangan lalu lalang di jalan. Terdiam bagai batu karang yang tak keberatan disapu ombak di lautan. Sampai gue mendapati nyokap di halaman.

"Assallamuallaikum, Linggar pulang."

"Waallaikumsalam, pucat amat," tegur nyokap. Kontan beliau cek jidat gue.

"Mah? Linggar dah besar kali," protes gue.

"Astagfirllahhalazim. Kok panasnya persis kayak pantat panci Mama, yang baru diangkat dari kompor."

Ya Mam! Andai Mama tahu, mungkin begitulah jika seseorang baru dibakar habis oleh api cemburu.

***

Selanjutnya gue terus-terusan sakit. Mama minta gue chek up pertama kali ke bidan sebelah rumah. Heran, disangkanya gue hamil kali, perkara pusing dan mual. Karena belum sehat, gue berinisiatif ke dokter umum. Katanya tak apa, akan diberi obat. Jika belum sembuh, maka diminta balik untuk evaluasi lanjut.

Harapan kesehatan gue makin pupus. Bahkan gue diseret ke dokter spesialis. Karena pusing Mama ngira gue kelainan mata. Ternyata tidak, mata gue baik. Begitu khawatirnya nyokap, akhirnya sampailah kami ke dokter neuro. Gue harus jalani serangkaian tes menyeramkan untuk diri gue pribadi. Semua juga menyatakan gue baik dan sehat. Meskipun kadang miring, isi kepala gue tetap otak yang cerdas dan kreatif seperti biasa. Tak ada kata selain, Alhamdulillah.

Entah, takdir apa yang tersurat dan tersirat pada selembar daun jatuh. Hingga gue terbawa sakit sampai sekarang. Jujur saja, meski gue belajar iklas tapi tetep agak bingung, sebenarnya Tuhan sedang menuntun gue ke jalan mana.

"Ini kemana lagi, Ma?" tanyaku pas kami berhenti di sebuah rumah.

Tak ada plakat dokter di depannya. Gue berpikir mungkin sedang rusak.

"Usaha terakhir. Kali ini, Linggar masuk sendiri," ucap Mama mencurigakan. Aneh, tak biasanya.

Deg. Entah mengapa jantung gue berdebar-debar. Saat seorang wanita datang menyambut gue ramah. Gue masih berharap dia seorang ahli gizi. Kenyataannya, gue jadi ceking karena kurang makan saat ini. Nah, gue jadi mikir dia orang yang tepat.

"Pak Linggar?"

"Mas," jawab gue mengoreksi.

Wanita itu pun tersenyum misterius. Serius, dia memang memesona, bagai cahaya bulan yang bersinar di tengah kegelapan malam. Ya, tepatnya kegelapan hati gue. Yang merana akibat patah hati dan menjalani hidup seperempat abad seorang diri.

"Mas Linggar, saya Arini. Kita disarankan untuk saling menyapa dan berbagi. Mungkin sebagai teman."

"Teman hidup?" tanya gue iseng.

"Teman berbagi cerita," jawabnya kalem.

"Anda psikiater?" tanya gue mulai paham.

"Hemm, saya tidak pernah mengambil kedokteran apalagi spesialis kejiwaan. Hanya dari psikologi," jawabnya terlihat sungkan.

"Oh, psikolog? Kebetulan nih. Tolong! Yap, sekali lagi tolong bantu perbaiki beberapa bagian hati saya yang penuh luka, Bu. Dipersilakan," jawab gue sinting.

Trenggalek, 5 maret 2016
By: [RD]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rainbow Rowell

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Finding Samara