Finding Samara


Pada sepertiga malam, saat terjaga sendirian, aku sering banyak bertanya pada Tuhan.
Allah, bagaimana pernikahan yang bahagia itu? Barangkali, malam ini hamba bersimpuh memohon ampunan-Mu, karena mungkin terlampau gegabah memilih keputusan. Dan jika hingga saat ini, hamba belum bisa mengajak suami hamba terjaga dan menjadi imam dalam setiap doa kami, sekali lagi hamba membawa seluruh rasa bersalah ini. Mohon dibukakan pintu hati di antara kami yang masih tertutup, jadi selapang-lapangnya hingga cahaya kebenaran menerobos masuk. Aamiin.

***

Menceritakan tentang suamiku Max, memang jauh meleset dari yang pernah aku rencanakan. Setiap wanita Islam mendambakan lelaki sholeh, banyak menghafal Al-Quran dan baik budinya seperti yang ada dalam novel religi. Tapi Max jauh dari kriteria itu, meski tidak bisa dibilang biasa juga dalam hal ini.

"El, saya tahu kamu bisa. Semua ditata sesuai dengan urutannya. Dari hidangan pembuka sampai penutup. Setelah makan, kita angkat piring kosong ke dapur sendiri. Kamu mengerti kan? Tentu kita akan jadi tamu yang baik," jelasnya rinci.

Dia malah melibatkanku pada hal-hal rumit duniawi. Misalnya memastikanku untuk tidak membuat cuilan daging panggangku terlempar bersama garpunya ke mulut orang lain.

Entah sejak kapan aku juga harus peduli mengenakan busana apa? Dan apa itu sudah cocok bersama warna sepatu dan tas yang kukenakan? Seolah fashion police akan menangkapku jika saltum.

"Tentu saja Max. Aku mungkin tidak akan makan sup menggunakan pisau. Lalu sebaliknya menyendok salmon memakai sendok sup. Dan aku berjanji tidak akan minta nasi di sana," jawabku setengah bercanda.

Max tersenyum diplomatis. Ekspresinya tenang seperti biasa. Sikapnya yang serba terkendali terkadang sangat membosankan. Bahkan saat terdekat sekalipun, dia hanya memeluk atau menciumku sebatas tradisi. Lebih mudahnya semacam kewajiban demi kesopanan sebagai suami.

"Kita boleh tidak memilih gelas tingginya kan?" tanyaku ngeri.

"Tentu El. Aku tahu kita tidak boleh meminum anggur. Kita bisa berkata demi kesehatan," jawab Max bijak.

Rasanya lega bisa melewati makan malam yang agak merepotkan itu. Sebelumnya aku tidak pernah peduli. Sendok mana atau piring jenis apa yang harus kugunakan terlebih dulu. Aku tak pernah bermimpi jadi seorang ratu.

***

Sekarang giliran Max. Hari ini kami harus datang ke pernikahan sahabatku. Mungkin bukan Max yang sebenarnya gugup tapi sekali lagi aku. Untuk pertama kalinya, dengan mengumpulkan segenap keberanian, aku ingin memperkenalkannya pada semuanya.

Awalnya, Max adalah lelaki yang terlarang untukku. Itu melibatkan sejarah panjang jika harus dijelaskan. Dan sering kali membuat salah paham.
Jadi aku tidak ingin membahasnya lagi, di sini.

"Edelweis, kini aku tahu kamu hanya ingin menjaga perasaanku. Sungguh aku memahami konsep tidak diterima di sini," bisik Max lirih.

"Kita pulang saja," ajakku.

Aku menggapai lengannya lembut. Membimbingnya pergi dari pesta tanpa lama-lama.
Kenyataannya kami tidak memutuskan langsung pulang. Namun, berjalan beriringan menelusuri malam. Aku berusaha mengabaikan kakiku yang mulai lelah, dan menukarnya dengan momen yang paling kuharapkan selama ini.

"Aku pernah berpikir tidak pantas untukmu," ucap Max mengejutkan.

"Percayalah, akulah yang sempat berpikir begitu. Terlambat menyadari kalau ternyata mata hatiku lah yang tertutup tentang usaha dan ketulusanmu menyesuaikan diri," jawabku.

"Luar biasa. Kadang aku berpikir sama dalam konsep yang berbeda."

Ini malam yang aneh. Kami bisa tertawa setelah itu untuk hal yang tidak lucu. Mungkin baik aku dan Maximilian Deveraux sebenarnya sama-sama sedang gugup.

"Sebaiknya kita harus memperbaiki cara kita berkomunikasi. Lalu berhenti merahasiakan sesuatu,"ucap Max.

"Hal-hal yang tidak kamu tahu. Seperti setiap senin saat kamu pergi ke Jakarta aku les bahasa Inggris. Atau sekali waktu aku coba belajar piano, sastra dan seni. Beberapa yang mahir kamu kuasai."

"Sama saja. Diam-diam aku meminta seseorang mengajariku mengaji. Aku sudah iqro' jilid lima sekarang. Bahkan mulai lebih banyak menghafal surat-surat pendek. Supaya saat aku sholat, aku tidak mengulang-ngulang surat yang sama," jelasnya.

Air mataku bergulir. Merasa malu telah mengira kalau dia keberatan belajar lebih banyak lagi.

"Seharusnya kita berhenti bersedih dan mulai bahagia. Tersenyumlah, Sayang. Mari kita hidup tanpa prasangka buruk, mulai sekarang," nasehatnya.

"Kamu memiliki seluruh rasa sesalku, Max. Hukum aku jika kamu mau."

"Bagus. Karena aku ingin memelukmu sekarang, sambil mengabadikannya sesekali. Seperti ini. Cekrekk. Ngomong-ngomong. Apa istilahnya penuh cinta dalam damai, pada keyakinan kita, Sayang?"

"Lebih lengkapnya. Sakinah, mawaddah, warahmah," jawabku.

"Sakinah, mawaddah, warahmah with my lovely wife. Edelweis. Surabaya, East Java. Indonesia."


Aku cuma bisa menggelengkan kepala, sambil berbisik dalam hati. Ternyata terlampau sulit mencari cara menemukan tiga kata itu sesuai di buku. Setiap pasangan punya cara sendiri untuk menemukan jawabnya. Tentu jika kita punya keberanian untuk benar-benar memahaminya.

Trenggalek, 21 Maret 2016
By: [RD]

Baca juga

Komentar

  1. Yang pasti setelah mendapatkan pasangan harus dijaga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul mas. terimaskasih berkenan mampir ya...

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

Rainbow Rowell