Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Finding Samara

Gambar
Pada sepertiga malam, saat terjaga sendirian, aku sering banyak bertanya pada Tuhan.
Allah, bagaimana pernikahan yang bahagia itu? Barangkali, malam ini hamba bersimpuh memohon ampunan-Mu, karena mungkin terlampau gegabah memilih keputusan. Dan jika hingga saat ini, hamba belum bisa mengajak suami hamba terjaga dan menjadi imam dalam setiap doa kami, sekali lagi hamba membawa seluruh rasa bersalah ini. Mohon dibukakan pintu hati di antara kami yang masih tertutup, jadi selapang-lapangnya hingga cahaya kebenaran menerobos masuk. Aamiin.

***

Menceritakan tentang suamiku Max, memang jauh meleset dari yang pernah aku rencanakan. Setiap wanita Islam mendambakan lelaki sholeh, banyak menghafal Al-Quran dan baik budinya seperti yang ada dalam novel religi. Tapi Max jauh dari kriteria itu, meski tidak bisa dibilang biasa juga dalam hal ini.

"El, saya tahu kamu bisa. Semua ditata sesuai dengan urutannya. Dari hidangan pembuka sampai penutup. Setelah makan, kita angkat piring kosong ke da…

Orang yang Terakhir Duduk dan Tersenyum [01]

1 Minggu pukul empat sore, di belakang rumah yang memiliki sekotak kandang ayam di bagian pojoknya, angin plin-plan berhembus kencang dari arah selatan, timur, utara, lalu tidak jelas berputar-putar di belakang rumah itu. Sebenarnya tidak terlalu kencang sih. Kecepatannya rata-rata saja dan cuma mampu menumbangkan jemuran-jemuran yang tergantung di tali yang ujungnya diikat di dahan pohon mangga, dan berakhir di cagak antena, yang kini sudah tidak gunakan. Persis di sampingnnya ada sebatang pohon kapas yang sudah tua, daun-daunya bergemerisik seolah sedang bergosip dengan daun telingan angin yang baru saja tiba dan membawa kabar yang mudah dilupakan atau tidak mudah dilupakan tapi bisa menjadi bulan-bulanan, oleh daun-daun warga sekitar. Seekor capung berwarna merah mangkak nampak terbang lincah kesana-kemari di antara tali jemuran, sangat asik dan seolah tidak peduli melakukan manuver-manuner yang berbahaya, seakan-akan ia memiliki lintasan sendiri di udara. Sementara seorang lelaki be…

Rainbow Rowell

Ini tidak akan terjadi. Kita akan tetap tinggal di California. Kau membencinya. Tapi kau menanam alpukat sendiri. Jadi itu cukup hebat.
Kau menyukai rumah kita. Kau yang memilih warna catnya. Kau bilang rumah kita mengingatkanmu pada rumah yang nyaman—ada sesuatu tentang perbukitan, atap yang tinggi dan hanya satu kamar mandi.
Kita dekat dengan laut—cukup dekat—tapi kau tidak membencinya. Tidak seperti dulu. Kadang-kadang kukira kau menyukainya. Kau mencintaiku di tepi laut. Dan kedua anak kita. Kaubilang laut membuat kami terlihat lebih manis. Membuat pipi kami bersemu pink, dan membuat rambut kami ikal.
Dan, Neal, kalau kau tidak kembali padaku, kau tidak akan pernah melihat bahwa kau adalah ayah yang sangat baik. Itu tidak akan sama kalau kau punya anak dari perempuan lain yang lebih baik, karena anak-anakmu bersamanya bukan Alice dan Noomi. Walaupun aku bukan pasangan yang sempurna, tapi mereka adalah anak-anak yang sempurna. Ya Tuhan, kalian bertiga. Kalian bertiga.

Ketika aku bang…

Mata Bidadari

Mata Bidadari

Pagi tengah hening bertasbih, disaksikan ribuan malaikat seperti biasa. Jarum jam bergerak lambat kemudian bergulir lembut ke waktu dhuha yang hangat.

“Selamat pagi!”

Uhuk! Aku hampir menelan cangkir kopiku ketika melihat Alya berbeda dari biasanya. Selama dua puluh dua tahun aku memang belum pernah melihatnya melepaskan hijab. Kuperhatikan malah semakin panjang, saat dia memutuskan bersedia tinggal seatap kamar bersamaku.

“Tak disangka pas musim penghujan, kebetulan mesin cuci rusak. Ini pasti hari mencuci baju,” godaku.

Bias merah membingkai wajah ayu Alya. Sebenarnya bukan istriku yang salah. Kadang kala sekali waktu, jika tengah menjadi suami khilaf, aku membelikannya baju rumah. Mungkin dress gold akan cocok di kulit coklatnya, syukurlah jika tidak kebesaran di tubuhnya yang ramping. Astagfirlahhalazim, tentu saja, aku tidak ingin sengaja melihat kakinya yang jenjang. Apapun itu, aku hanya bisa mengucapkan, Masya Allah ternyata aku memiliki kekasih cantik.

“Yusuf! L…

Jodoh Terakhir

Jodoh Terakhir

Menurut novel yang pernah gue baca, kalau tak salah ingat berjudul 'Hidup Ini' yang ditulis oleh penulis gagal dan gaje, Rini Dwi. Bahwa di antara kegelisahan yang dialami para jomblo adalah diciptakannya acara bernama reuni. Entah anugerah atau musibah, Tuhan mendadak memberi solusi. Yaitu di hari yang sama, gue diberi kehormatan untuk datang ke pernikahan mantan.

Oke. Kalau boleh jujur, gue milih dateng ke acara pertama. Atau sekalian nggak datang ke keduanya. Nyempil di ruang tivi sambil ngemil, lalu nonton movie bergenre romantis sad ending, yang bikin gue punya alasan untuk nangis-nangis. Namun apa daya, gue cuma salah satu jomblo yang terikat kontrak dengan wedding planner.

"Everybody, pada hitungan ketiga. Please kalian bilang, cheese. Satu, dua, tiga!"

"Cheese!"

"Next, yang gokil ya! Dalam hitungan ketiga bareng-bareng teriak, tempeeee! Satu, dua, tiga."

"Tempeeeee!"

Dan tibalah pada detik mendebarkan. Di saat gue …

Teman Dunia Maya

[Cerpen] Teman Dunia Maya
Jendela terdengar membuka menutup. Sontak aku terbangun dari mimpi buruk, sekujur tubuhku dibanjiri keringat dingin bermanik-manik. Dengan malas aku bangkit dari ranjang, memberanikan diri menatap keluar. Langit terlihat menyeramkan, perpaduan dari gumpalan awan pekat hamil tua bercampur warna merah saga. Angin menyiksa pasir dan dedaunan, ombak bergulung dasyat menyisakan buih lebih luas dari biasanya.
Sulit memejamkan mata. Yang kulakukan cuma menatap lukisan gadis indo di dinding kamarku dengan ngeri. Aku tak mau lagi melukis wanita secantik Luvina Flower Jasmine Desmond. Dengan mata biru, kulit pucat dan bibir semerah darah dia nampak menyeramkan. Oh, Tuhan, sudah beruntung pada hari Kamis malam, Flow tidak keluar dari sana untuk mencekikku.
Baiklah. Hal kedua yang kulakukan begitu terjaga adalah bertanya. Kenapa Lintang menghilang? Seribu kali aku bertanya demikian.
Rasanya belum pantas bercerita kalau aku sangat akrab dengan Lintang. Kami bertemu di …

Menjadi Langit

Aku tidak mengerti. 
Sekarang pukul dua puluh tiga lewat lima. Tak ada waktu yang benar-benar tepat. Kini, bisa kau bayangkan, aku sedang duduk dan memikirkanmu. Satu jam lalu, aku berpikir, kau duduk dan menunduk membaca pikiranmu sendiri. Seorang ibu mungkin saja kesal ketika anak balitanya suka menghibur diri dengan cara menguyah handpone miliknya. Aku sedang menghibur diriku sendiri untuk mengembalikkan kepercayaanku. Asal tuhan mau menjamin –keselamatan orang-orang yang kesepian— aku pun mau sekedar mengunyah sebatang handpone. Tapi kupikir tindakan itu terdengar seperti kambing kelaparan dan putus asa yang tak menemukan rumput. 

Orang-orang menghabiskan besar waktunya hanya untuk mendapati diri mereka berada di toilet, lampu merah, atau sekedar mengetik pesan yang tak pernah berani mereka kirim. 

Aku bisa saja orang yang paling kau benci. Tapi kau tak pernah mengatakannya. Kau adalah orang yang paling kucintai, tapi aku tak pernah sanggup mengatakannya lagi. 
Aku mulai membayangkan,…

Yesterday

Seumur hidup aku bermain. Mendengarkan orang lain. Kadang bicara, tapi aku lebih suka diam. Bukan karena aku benar-benar pendiam. Aku tak menyukai kata-kata itu. Rasanya, jika aku mulai banyak bicara, aku telah berubah menjadi bukan aku. 

Tak ada yang salah dari ibu dan ayahku. Mereka mengajari anaknya dengan sangat baik; membaca kesedihan mereka, mengusap airmata, menghitung peluang menjadi juara, menenangkan kekalahan mereka, mengajari menggambar dan melarang anaknya menjauhi api di belakang rumah. Mereka memberikan apa yang anaknya butuhkan. Dan kurasa, kelak, surga adalah tempat pantas untuk mereka. Aku tak tahu, apa mereka juga akan membentakku dari tempat jauh saat aku berada dan bermain api di neraka? 

Aku telah lama bermain. Apakah aku akan berpikir bahwa aku akan menghentikannya? Jangan bertanya padaku soal itu. Sebab aku hanya akan diam. Di luar kesadaranku, orang-orang juga bermain bersamaku. Aku katakan seperti itu, karena baru-baru ini aku menyadarinya. Ia menyukai permaina…

Malam Minggu Bersama Hyena-hyenamu

Aku tahu, ini pasti melelahkan bagimu, tapi, aku yakin kau di pihak yang benar. Kita akan melewati malam ini, dengan perasaan damai seperti malam Minggu sebelum kita memilikinya dan kehilangan karena tak terbiasa tanpa mereka. Sentuh apa pun yang ingin kau jangkau. Sejauh harapan itu cuma angan-angan sama sekali bukan masalah. Seperti apa jadinya nanti, aku janji ini tak akan berakhir dengan buruk. 

   Kau bisa mengalihkan perhatianmu dengan memutuskan diri turun ke jalan. Jika kau punya teman yang lebih mirip dan lebih bisa memahamimu dari pada dirimu sendiri, pilihlah, bergabunglah dengan mereka seperti kau adalah kau seekor hyena. Mereka akan menyukaimu jika kau mampu menyalak dengan melengking. Berkontribusilah. Melolonglah semampu bisa kau harapkan sampai urat lehermu sebesar biji pensil yang diselipkan di antara leher manusia. Keluarkan semua bunyi-bunyian yang kau punya. Keluarkan semua sisi burukmu saat bersama mereka. Beberapa temanmu akan bilang, kau hebat, ia akan menoleh…

Di Bawah Pohon Hijau

kulepaskan juga kaki-kakiku
yang kasar
dan pendek-pendek
seperti woodduck*
supaya
kau bisa lari lebih cepat
tanpa
aku sanggup mengejarmu karena perutku yang gendut
tak punya alasan
ingin langsing

lari. lari. larilah. seakan
itu caramu hidup
agar tak dimangsa hidup.

sambil mendoakanmu: selamat
di bawah pohon hijau
aku akan belajar menggambar
langit
yang nasibnya selalu sunyi
memasak, mematik api
dari gigi limau dan bisa taringku
aku akan belajar menjahit
sarung tangan di musim dingin
seperti pernah
menjadi seorang suku ekskimo
yang tahan badai dan rencana
-rencana tuhan untuk dipeluk
di jalan tegak dan landai
bersama remah-remah
kerikil-kerikil dan batu-batu
kelak, akan kubuat runtukan itu
rumah
bagi pemakaman masa lalu kita

di bawah pohon hijau
di bawah pohon hijau
kau bisa menjenguknya.

(April, 2017)
__
*) woodduck adalah jenis gajah berkaki pendek dan bertubuh gempal dan gendut.