Postingan

Sore dan Rasa Bersalah

Dua orang laki-laki dewasa. Satu mengenakan kaos polos putih dan celana pendek dan di lehernya menggantung perbagai minuman pendongkrak energi, air mineral, kopi dan lain-lain lengkap dengan makanan ringan kacang dalam sebuah plastik kecil, biji jambu mete yang sudah digoreng enak dan sebagainya. Lelaki kedua, mengenakan kemeja putih berlapis jas hitam, seperti tuxedo, celana katun licin dan sepatu mengilat yang mancung di depannya.

Dua lelaki sama-sama dewasa, muka mereka bengis, mungkin di balik mulutnya terselip beberapa taring, dan saya telah membuatnya muntab.

Dua lelaki dewasa. Mereka marah pada saya.

Dua lelaki dewasa. Mereka menuntut saya mengeluarkan isi dompet. Lelaki pertama, dia sangat sibuk dan menginginkan pergi, tapi dia juga menginginkan secangkir kopi plastiknya dikeluarkan lagi dari dalam lambung saya, jika saya tak segera membayar dagangannya. Sementara itu, lelaki kedua, saya rasa dia menginginkan dua hal dari saya: (pertama) anda di situ saja, bung. Lalu ijinkan …

Menikmati yang Ada

Jangan bilang apa-apa
Jangan menggaruk hidungmu
Jangan tertarik dengan lawan bicaramu
Jangan perhatian jambul anak itu
yang berubah-ubah mengikuti arah angin. Seperti isi kepalanya

Jangan bilang tidak enak
Hentikan jika ia bicara terlalu banyak
Dan apabila
kau merasa sudah cukup
Saat pergi.

Atau duduklah di sampingku
Kita bisa mengobrol banyak hal
Di sekitar kita hanya ada isu
Ternyata di balik punggungmu
memang tak akan pernah
tumbuh sepasang sayap bulu
Yang mustahil membuatmu terbang

Tapi kumohon jangan berteriak
Tenanglah. Aku pegangi pundakmu
Semua terasa berat ya?
Tapi mari kita buat ini menjadi mudah
Dengan mengabiskan waktu menghitung mobil-mobil
Melakukan hal-hal tak berguna dan tertawa!

Tapi jika kau tak suka kebisingan
Kita bisa kok
tinggalkan tempat ini diam-diam dalam senyap tanpa sengaja
berjalan menginjak kaki orang lain.

Bagaimana?
Apakah kau mau duluan?

Pertanyaan-pertanyaan yang Tenggelam

Gambar
Di jalan, di sebuah gang kecil, sehelai kertas berwarna putih mangkak tertiup angin. Ia terbang merendah. Lalu seolah memilki sepasang sayap untuk hinggap, selembar kertas itu menukik lantas mendarat di bawah kaki saya.
“Kau boleh saja memutuskan tidak menikah sampai akhir hanyat. Itu bukanlah ide buruk. Segala kekacauan di muka bumi ini memang terjadi karena perkara sepele. Salah-salah mengingat batas teritorial kita misalnya. Atau, jika kau ingin alasan yang lebih sepele—kalau kau cukup bernyali—datang dan pergi ke Istana Negara tepat di hari Senin. Lalu panjat tiang bendera yang ada di sana dan membaliknya dengan warna bendera Polandia. Mereka mungkin akan menghargai usahamu sebagai orang gila dan sebagai gantinya kau akan dipukuli hingga hampir mati. Dan saat itulah kau akan paham apa yang sedang kita bicarakan.
"Orang-orang yang memukulimu, lahir dari keluarga harmonis, tidak harmonis, dan agak harmonis untuk ukuranmu. Akan tetapi mereka tidak paham apa yang sedang mereka laku…

Suaramu

Apa itu kau? Suaramu
yang memanggil-manggil aku
supaya menoleh dan berdelusi

Sekali lagi. Suaramu berhembus
dari dasar telingaku, yang mudah bengkok dan tuli kerasukan percik air mandi.

Itu kah kau? denging pesawat yang melintas
terbang bersama burung-burung
di atas ribuan kaki

di antara lututku yang gemetar
dan kerap kau curigai
sebagai penumpang ilegal

dijatuhkan ke bumi, demi mencicip lumpur dan mengulang-ngulang kata ganti
gagal menghapal nama jalan-jalan, yang tak pernah lolos dari mata rautan

Itu pasti suaramu yang samar-samar melambai-lambai hendak mengatakan, Hati-hati di jalan ya, tapi sebelah tanganmu adalah tongkat Musa
yang mampu memisahkan laut merah.

Di seberang jalan, suaramu terdengar terluka. Aku apalagi.

Sekejap semuanya menjadi kramat
tapi kau terus memanggil-manggil supaya aku terus terserap dan menggigil

di balik jaketku, kau biarkan
aku terseok-seok
menyebrang jalan itu.

[AW]

Menanti Kau yang Setengah Aku

setiap kali aku merasa aku manusia setengah laki-laki dan setengah ibuku adalah perempuan pertama yang kujumpai adalah tubuhmu, di pasar malam itu, kukira inilah hari terakhir ketika aku bisa memandangmu.

lebih lama, perlahan-lahan kusipitkan kuintip kau kupejamkan mataku; sebuah desa tumbuh menyerupai kota kecil, lengkap dengan liuk dan orang-orangnya yang kerdil dan saling membelah terlalu banyak hingga menambahkan kemacetan di antara sungai-sungai, rumah salin, swalayan yang menyediakan highheel agar mereka bisa berpura-pura lebih tinggi, lebih bahagia karena bisa menjadi diri mereka.

keheningan kehilangan kegiatan kata-katanya mencari teman menyanyi, tertiup angin suaranya ke arah yang tak pernah mampu kita cintai dengan sepadan sebagai celoteh atau candaan kekasih.

lalu kau yang ceria dan setengah bersemangat membetulkan kedurungmu, memilih kata berangkat, sekarang! sementara aku mengutus diriku untuk mengusir rasa ingin tahuku yang gelisah di balik pintu kau menemukan kunci l…

Eskapis di Rumah Sakit

Yang Diinginkan Sembuh Kapada yang Sakit
di rumah sakit.

menunggui yang sakit.
jubah suster cantik
tak pernah bisa menggantikan
pikiran-pikiranmu dengan remeh-temeh muasal kita
dilahirkan hanya untuk tahu
ketidaktahuan bagaimana
sebaiknya
kesedihan itu dibunyikan.

Seperti derap langkah sepatu
suster itu?

Tak ada
orang yang ingin membikin sajak
dari suara gesekan
antara rentetan mata runcing
jarum suntik dan senyum di balik kain
masker yang dikulum.

di samping ranjang
orang-orang bersandar
pada harapan kelewat matang
seperti bubur, yang menunggu
diamalkan waktu kepada tisu

waktu itu: kamu memilh menangis
sebelum akhirnya kembali lagi
sibuk mengisi teka-teki
dengan barangkali-barangkali...

dua anak kecil. berlarian
tertawa, bertahan
dari kepungan-kepungan sunyi
sebelum langit mampu
dinamai: hari esok
yang biru seperti sendok pispot

riuh jantungmu..

menunggui yang sakit
meringkuk di kolong ranjang
terantuk-antuk
membaca buku harian
hidupmu, yang kata pengantarnya
tak pernah berani kamu t…

Ia Ingin Naik Kelas

Ia ingin naik kelas.
Tapi buku yang ia baca
tak dapat ia jangkau
hanya bisa ia eja:

"a... b... a...
d...
d... a...
r... a...
h... l...
u... k...
a... Ah, susah ya!"

Ia terpekur,
mendongakkan kepala
ke kusen jendela: serbuk kayu,
rayap, bekas tempias dan
warna biru
yang dihisap cuaca.

Ia pun kembali mengeja
keras-keras

"Es... A...
Ye... A...
Es... I...
A... Pe... A...
Aduh, bingung--"

Ia mengurut kening
huruf-huruf berdengung
di dalam sana seolah-olah
bunyi terlempar di dinding goa

"Aku ingin naik kelas," ucapnya.

Seperti doa.

[es ha]